Ketimpangan Kaya dan Miskin

Bagaimana ketidaksetaraan bisa berhasil?

Indikator ketidaksetaraan yang paling umum digunakan adalah pendapatan, yang mengukur perbedaan kekayaan antara kelompok-kelompok di bagian atas dan orang-orang di kalangan bawah, sementara ukuran lain termasuk status sosial, kekuasaan dan kekayaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, akademisi dan komentator telah mengidentifikasi ketidaksetaraan ekstrim sebagai pendorong perpecahan sosial dan guncangan politik yang meluas di AS dan Inggris, dua negara maju yang paling tidak setara di dunia.

Meskipun ada konsensus luas bahwa tingkat ketidaksetaraan yang tinggi buruk bagi masyarakat, bagaimana konsentrasi kekuasaan dibiarkan berkembang? Dr. Milena Tsvetkova telah menerbitkan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan ini dengan menganalisis kondisi di mana ketidaksetaraan bertambah.

Dalam penelitian yang didanai oleh Yayasan VW, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan penelitian ilmu sosial, Dr. Tsvetkova dan mitra penelitiannya menggunakan teknik yang biasa dikenal sebagai meta-studi, re-analysing badan penelitian yang ada untuk mencari tren yang lebih luas.

Mereka mempelajari 33 percobaan, beberapa di antaranya melihat bagaimana jaringan sosial terstruktur, dan tingkat mobilitas yang terjadi di dalam jaringan yang berbeda. Juga termasuk dalam analisis peneliti adalah bagaimana reputasi mempengaruhi posisi sosial, dan apakah kemampuan untuk menghukum warga lain, melalui denda atau hukuman lain, meningkatkan ketidaksetaraan.

Temuan utama adalah bahwa ada lebih banyak ketidaksetaraan dalam jaringan yang stabil, dengan struktur dan hirarki sosial yang ketat, dibandingkan dengan jaringan acak. Contohnya adalah komunitas yang secara ekonomi bergantung pada pertanian dan lahan, di mana ada peluang lebih besar untuk mengumpulkan tanah dan kekayaan, dan kemudian mengirimkannya ke generasi mendatang.

Temuan menunjukkan bahwa keragaman dan fluks yang lebih besar dalam kelompok sosial akan mengurangi akumulasi kekuasaan yang dapat terjadi pada jaringan tetap dan menyebabkan ketidaksetaraan.

Dr Tsvetkova mengatakan: “Sistem sosial yang kaku, di mana orang memiliki posisi atau peran tertentu, tampaknya memunculkan ketidaksetaraan yang lebih tinggi. Ini berbeda dengan jaringan acak dan lebih dinamis, di mana individu memiliki peran yang berbeda dalam struktur sosial yang lebih longgar. ”

Analisis ini juga menemukan bahwa kemampuan untuk menghukum orang lain dalam suatu kelompok adalah faktor dari peningkatan ketidaksetaraan. Contohnya adalah penalti keuangan yang dikenakan pada warga yang kurang berkontribusi melalui perpajakan.

Salah satu penjelasan yang diajukan oleh para peneliti adalah bahwa jaringan tetap memungkinkan cakupan yang lebih luas bagi orang kaya untuk mengeksploitasi orang miskin. Di mana kemampuan untuk menghukum ada, beban terbesar untuk membayar hukuman akan jatuh ke masyarakat termiskin, yang kurang mampu membayar.

Dr. Tsvetkova mengatakan: “Di mana institusi dirancang untuk menghukum teman sebaya jika mereka tidak berkontribusi, seringkali mereka yang paling miskin, mereka yang sudah kalah, yang paling tertarik untuk mensubsidi institusi tersebut. Namun, membayar hukuman membuat orang miskin menjadi lebih miskin, sementara orang kaya terus mengambil manfaat dari kontribusi semua orang yang lebih tinggi. ”

Dalam lingkup sosial, kekuatan reputasi kawan sejawat tampaknya kurang berpengaruh pada ketidaksetaraan.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang-orang lebih mungkin untuk bekerja sama dengan mereka yang memiliki reputasi positif, dengan persepsi orang yang diperkuat dan dibesar-besarkan seiring waktu. Akibatnya, kelompok sosial di mana  memiliki reputasi yang tersedia untuk umum cenderung memiliki ketidaksetaraan yang lebih tinggi daripada kelompok yang tidak punya reputasi.

Menggunakan contoh komunitas media sosial, Dr Tsvetkova mengatakan: “Reputasi memandu transaksi online di eBay atau Amazon. Di situs web ini, orang-orang dengan ulasan terbanyak dianggap sebagai yang paling dapat diandalkan, yang mengarah ke penjual tertentu yang mendominasi pasar. ”

“Jaringan kerjasama yang lebih kecil dapat mengesampingkan pengaruh reputasi publik dalam situasi tertentu. Misalnya, jika pembeli dipandu ke opsi yang lebih beragam yang tidak selalu menyertakan penjual terbaik, mungkin ada lebih sedikit ketidaksetaraan di pasar, ”tambah Dr Tsvetkova.

Studi berskala besar membuat kasus untuk kelompok yang dinamis dan beragam, dengan berbagai interaksi sebagai dasar untuk mengurangi ketidaksetaraan. Dr. Tsvetkova mengatakan: “Semakin kita memahami tentang kondisi di mana kelompok-kelompok tertentu mengumpulkan kekuatan yang berlebihan, semakin dekat kita akan memahami cara menyelesaikan masalah.”

INCOME KELUARGA CERMIN INCOME NEGARA

Dalam ekonomi versi keluarga, ada dua type keadaan ekonominya, Yaitu ekonomi bust, dan ekonomi boom.

Kalau dalam sebuah keluarga, sumber pemasukan hanya dari suami yang sebagai pegawai, hutang di warung banyak, rumah ngontrak, maka keluarga itu punya masalah atau di sebut “economic bust”.

Ditambah lagi mereka ngredit rumah belum lunas, dan pendapatan hanya bergantung pada pegawai kantoran tadi, nekat kredit mobil. Jebol sebentar lagi keluarga tersebut. Bakal terbukti kata-kata “jatuh cinta pakai perasaan, mempertahankannya pakai penghasilan” dan tidak lama lagi bubar itu perasaan, mau di kasih makan apa keluarganya, cinta perasaan doang ngak cukup.

Itu adalah contoh keluarga dengan ekonomi bust. Teori klasik dalam membangun ekonomi rumah tangga adalah menambah cash flow atau uang masuk.

Kalau suami bekerja misalnya. Kemudian istri berbisnis warung. Hal ini membuat 1 rumah tangga memiliki 2 macam pendapatan.
Lalu, sang suami yang karyawan tersebut setiap weekend mengajar bela diri silat. Sehingga menambah pendapatan suami menjadi 2 sumber income.

Kemudian dana terkumpul, dibelikan tanah untuk beternak ayam petelur. Dimana anak-anak bisa membantu setiap hari merawat dan beternak.

2 income suami, 1 dari istri. 1 lagi dari usaha ayam petelur. Dan asset tanah buat kandang ayam yang bisa naik terus pendapatannya.

Ini adalah sebuah rumah tangga dengan 5 macam pendapatan atau multiple streaming of income.

Kalau ditambah, rumah yang ditinggali ada kamar lebih di pakai juga buat penginapan. Kemudian dipasarkan melalui AirBnB, maka keluarga ini benar-benar memanfaatkan setiap jengkal lahannya. Setiap centi asetnya. Dan setiap sumber daya untuk bermanfaat at the fullest, mereka menjadi pemilik kemakmuran yang sustain bertahan lama.

Ketika rezeki mereka bertambah, mereka membeli lahan dan membangun kos-kosan. Bulanannya dan asset tanahnya membuat 2 pendapatan dari 1 aset.

Keluarga ini dalam keadaan multiple income, tidak bergabung pada satu keranjang. Mereka bisa terus investasi dan cepat atau lambat terus menuju kemakmuran.

Coba sekarang kita melihat diri kita pada saat ini. Kita coba meng-audit diri kita dan keluarga kita. Saya yakin setelah kita meng-audit singkat kita sudah bisa menentukan kita masuk kaum “bust” atau kaum “boom”.

Kita tidak perlu bahas berapa digit pemasukan kita, tidak di perlukan. Saya hanya ingin memastikan, bahwa jika dengan jujur anda mengatakan anda “ekonomi bust”, maka saya katakan, anda bisa mengubahnya.

Terus belajar dengan mereka yang menurut anda dalam “ekonomi boom”. #ngopi

BERSIAP PRIHATIN 6 BULAN KE DEPAN

Proyek jangka panjang seperti infrastruktur adalah proyek yang revenue atau arus masuk uangnya di atas 10 tahun baru ada benefit langsung. Sangat pelan 5 tahun pertama.

Dalam keadaan BOOM ekonomi dan BUST ekonomi berbeda sifat investasinya. Ekonomi kalau lagi bust malah jangan invest, kalaupun invest adalah invest jangka pendek.

Di sini saya hanya mengingatkan bahwa secara kalkulasi di tahun 2015 itu kita ekonominya BUST, Tapi mengapa investasi jangka panjang? ya mungkin memang tidak bisa baca kondisi. ya tidak apa-apa juga sih, terbukti sekarang kesalahan tadi di 2018 kita kering duit dan rupiah blangsak. oh lupa, sekarang aman sudah ketemu alasan, dollar menguat, bukan masalah keuangan dalam negeri.

Disini mau belajar agar faham berbisnis. namun mulai dari makro dulu baru ke mikro. kita harus mengenal lagi 2 istilah. Investasi jangka pendek dan panjang bagi negara itu apa? BOOM BUST ekonomi itu apa?

Ketika kita melihat masalah domestik, atau kalau kita menggunakan bahasa umumnya istilah domestic adalah masalah rumah tangga. Dalam keadaan rumah tangga memperoleh pendapatan pas-pasan (bust) untuk menjalani hidup kita akan terjebak kalau memaksakan berinvestasi. Investasi cocok jika kita memiliki disposable income yang cukup (boom).

Baik, kita bukan mau belajar tentang mengelola keuangan atau financial planning, gampang itu. Karena financial planning adalah mengatur “uang yang sudah ada”. Kalau uang belum ada apa yang mau di atur? Itu bedanya apa yang mau kita diskusikan sekarang. Bagaimana “membuat” uang itu lebih penting.

Bagaimana membuat uang dimasa ekonomi ketat atau kontraksi seperti sekarang ini? nah itu tantangan yang menarik. Kalau buat uang di ekonomi boom ngak usah belajar banyak, nyebur saja. Kalau membuat uang di masa bust, nah itu perlu skill khusus. Jam terbang panjang baru bisa dan kita akan perpendek, bagaimana? Setuju.

Nomor satu jangan pernah salahkan ekonomi kita dengan masalah global, masalah luar negeri jangan di campur dulu. Hanya menteri yang “cemen” yang bilang kalau Indonesia ekonominya “shrinking” karena imbas global, sekali lagi pengamat ekonomi, atau guru ekonomi atau menteri pejabat Negara kalau ngomong seperti ini kita beri nama “cemen”. Sudah segampang itu kita kasih nama untuk mereka.

Kita bukan orang cemen. Kita beda, kita buat uang di masa bust, caranya? Kita awali dengan memahami bahwa ada 4 hal yang kita harus kenal dalam bidang ekonomi mikro termasuk kebutuhan sehari-hari. Ke empat hal itu adalah “gaya hidup”, “keluarga”, “bisnis” dan “investasi”.

Dalam kompartemenisasi mengelola ekonomi rumah tangga, masalahnya ada di 4 hal ini. Bagaimana anda meletakan di ke 4 slot tadi menentukan tingi rendahnya “financial quotation” anda, atau istilah saya “prosperity conscious” atau kesadaran kemakmuran.

Kita ambil contoh, kita mau beli smartphone, harga range mulai dari 1 juta hingga 15 juta. Fungsi sama, manfaat sama. Harga berbeda, gengsi berbeda, mana yang anda pilih?

Anda pilih Iphone, anda masuk “gaya hidup”, anda pilih Samsung atau anda pilih Oppo kolomnya geser ke “bisnis”. Mengapa? Karena Samsung atau Oppo harga bekasnya stabil, alias harga dan fungsi uang yang anda manfaatkan masuk “bisnis” kolomnya.

Sekolahkan anak. Ini bisa masuk kolom “gaya hidup” kalau anda sekolahkan ke global bintaro, bisa masuk kolom “keluarga” kalau di SD negeri, bisa masuk kategori “investasi” kalau sekolah di cikal atau mentari karena anak gubernur dan menteri sekolah di sana. Bayangkan, sekolahin anak saja bisa masuk beda kolom.

Secara perhitungan uang, ya pasti lebih biaya nya mahal di banding negeri, tetapi disitulah permainan pengelolaan portofolio.

Jadi, setidaknya kita harus pandai memilah portofolio keuangan kita, uang masuk dan uang keluar. Dan bagaimana uang dikeluarkan sesungguhnya kunci yang membuat seberapa cepat uang masuk kembali ke kita.

Kita sepanjang ini menulis, tujuan nya satu, menindak lanjuti tulisan sebelum ini tentang boom and bust ekonomi. Dan untuk memahami boom bust tersebut harus faham mengapa ekonomi ada yang boom dan ada Negara yang ekonominya menjadi bust. Hanya karena “salah” meletakan uang keluar dan cara uang masuk.

Sejauh ini saya meggunakan ilustrasi keuangan keluarga agar faham, dan di saat kita berbicara tentang kuangan organisasi atau perusahaan kurang lebih sama “platform”nya, dan demikian pula dengan APBN, atau pisahkan dua AP anggaran pendapatan dan BN belanja Negara.

AP adalah uang masuk, BN adalah uang keluar. Yang membuat pusing pemerintahan sekarang karena masih gagap menjadikan Gap AP dan BN sekarang “short” 365 triliun yang bingung “cover gap” nya akhirnya “cemen” milih utangan. Eeehmmm mau di tolong ngak nih?

Perilaku Politik Tanah Air

Tulisan ini untuk mereka yang berusia di bawah 40 tahun agar mengerti apa itu perilaku Politikus di tanah air Indonesia.

Fakta data : Pemilih terbanyak usianya di bawah 40 tahun pada saat pilpress dan pileg di 2019 dan dari data 60% adalah di usia ini. Makin kebawah usianya makin banyak hal yang mereka kurang informasi akan perilaku politikus sebelumnya.

Berbeda dengan yang di atas 55 tahun dimana mereka kenal 6 jaman, jaman suharto, jaman habibie, jaman gusdur, jaman megawati, jaman SBY dan jaman Jokowi.

Kita refresh mengingatkan sedikit :
Fadli Zon yang sering di hujat oleh pengemar pak Jokowi itu juru kampanye pemenangan Pak Jokowi dan Pak Ahok dengan baju kotak-kotak nya di pilgub DKI 2012.

Pak Anies baswadan itu tim sukses Jokowi-JK plus mantan Menteri Pendidikan kabinet Kerja. sebelumnya Pak Anies juga peserta capres versi konvensi Partai Demokrat. Anies Baswedan sekarang dekat dengan Jk dan nempel sama Pak Prabowo dan PKS. Padahal dulu Anies sering dituding Syiah oleh PKS. Masih ingat khan semua ini?

Di tahun 2012, Ahok itu yang menjadikan wakil gubernur adalah gerindra berpasangan dengan Jokowi. Ahok yang kemudian ditahun pilgub 2017 oleh pasukan 212 di serang, di dukung gerindra juga 212 nya. 2012 di sayang, 2017 di serang.

Kita lanjut.

SBY bagaimana? SBY itu mantan Menterinya Megawati maju nyapres di tahun 2004 bareng pak JK yang juga menteri megawati didukung Pak Surya Paloh. Sekarang surya paloh dan JK dekat sekali dengan Ibu Mega. 2004 saling serang 2014 saling dukung JK sama megawati.

Ke 08 prabowo sekarang? sejarah pak Prabowo itu dulu adalah calon wapres pasangan Bu Mega ketika pilpres 2009 berseberangan dengan SBY.

Pilpres 2009 Pak JK juga nyapres bareng Pak Wiranto melawan Pak SBY dan Pak Boediono yang di dukung aburizal bakrie. Lalu kemana Pak Aburizal Bakrie setelah 2014? Sekarang aburizal temenan sama Pak Prabowo yang dulu kompetitornya di pilpres 2009.

Kalau Amien Rais.? Ini aneh lagi. Menggulingkan Gus Dur sehingga Bu Mega naik padahal sebelumnya paling tidak sudi Bu Mega jadi Presiden. Dia berusaha keras agar Gus Dur jadi Presiden mengantikan habibie di rapat MPR tahun 1999 pokoknya bukan Megawati. Eh lalu di gulingkan gusdur setelah 1 tahun sebelum nya di gadang gadang oleh amien rais dan naikin megawati. Yang 1 tahun sebelumnya amien alergi sama bu Mega.

Kalo di pikir-pikir Bu mega itu memiliki hutang besar atas jasa Amein Rais menjadikannya presiden indonesia ke 5.

Pilpres berikutnya amien rais melawan SBY. Amien juga berseberangan dengan Prabowo di pilpres 2004 dan 2009. Sekarang Pak Amien Rais akrab dengan Pak Prabowo di kubu oposisi. Padahal dalam agenda tahun 1998 Pak Amien ini target Letnan Jenderal Prabowo utk “di aman kan”. Sekali lagi, prabowo “meng-aman kan” amien!.

Kalau PKS? Semua juga udah tahu ceritanya.Para kadernya menyerang dengan “black campaign” menjatuhkan Pak Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012. Lalu sekarang? Berteman akrab sama Gerindra yang selama jaman Pak SBY, PKS adalah musuh bebuyutan gerindra.

Di jaman SBY PDIP & Gerindra oposisi,sementara PKS masuk koalisi di Satgab jaman SBY. Sekarang di “klaim” gerindra PKS mitra lama. Bingung ngak tuh?

Sekarang di 2018 penulis fatwa MUI menjadi calon wapres yang tadinya seakan berada di kubu berseberangan sekarang menjadi satu perahu. Bahkan para pihak sudah menganggap selesai masa lalu (ahok 2017) , sekarang sudah saling memaafkan antara pak Ahok dan pak ma’ruf. Dan hal seperti ini biasa saja di dunia politik.

Ikut angin lalu ubah layar dan “Miring” ke yang lagi akan menang menurut “feeling”nya mereka itu hal biasa. Tadinya lawan karena kepentingan jadi kawan itu biasa. Tadinya saling serang kemudian saling rangkul itu biasa.

Yang kasihan khan para fans, para kaum yang saling serang dengan memberi label seperti cebonger dan kampreter. Mereka sering jadi bingung dengan drama apa di mainkan para elite dari tahun ke tahun ini?

Para fans jadi emosiona,l menjadi murka begitu pujaannya “tidak punya marah yang sama” dengan diri mereka. Para fans masih menggenggam marah, para elite sudah “cikar kanan” vaya con dios cari laen (posisi).

Sebel sama putusan jokowi ambil pak Makruf yang fatwanya menjerujikan ahok, namun tak lama kemudian logika otak mencari pembenaran mulai muncul setelah minum kopi. Akhirnya menemukan lagi alasan untuk membela pujaan dan mencari lagi bahan untuk mencela lawannya. Mulai saling serang lagi.

Karena dasarnya punya marah jadi otak harus terus cari alasan untuk bisa menyerang. Dan nanti kira-kira setelah pilpres baru nyahok. Baru nyadar, oh ternyata pujaannya kalah dan gabung dengan lawan juga dari pada ngak ada jatah.

Lucu khan? Para fans saling serang tetapi elite bisa salaman dan ketawa ketiwi seperti di acara ulang tahun Akbar tanjung kemarin Om sandiaga bergandengan akrab dengan Airlangga dan petinggi golkar. Memang tidak ada apa-apa di acara tersebut. Tapi disini melihatkan, begitu ada angin salah satu menang. Maka kepentingan mulai main. Ikut angin!

Sandiaga menang, golkar merapat ke pemerintahan baru. Minta posisi. Koalisi menang om sandiaga jangan kaget di tawari menteri peridustrian?. Terus kita harus marah gitu? Harus kecewa gitu?

Begitulah sedikit info wahai sahabat muda yang usianya di bawah 40 tahun yang merasa pujaannya akan selalu sama memiliki “rasa” seperti kalian. Jawabnya TIDAK.

Begitu TGB pujaan kalian memiliki pendapat yang berbeda dengan “marah” kalian, langsung memaki pujaan tersebut. Lah yang aneh siapa ya? Jangan pernah berharap pujaan hati kita akan selalu memiliki “marah” yang sama dengan kita.

Misalnya marahnya saya kepada Rinso dan kesalnya saya pada pejabat yang setuju hutang china tiongkok adalah marahnya saya pribadi. Dengan alasan pribadi. Jadi jangan terkaget kaget kalau saya di tawari kredit tanpa bunga 10 triliun agar saya diam tidak nulis di FB saya terima. Atau nanti FPI 212 mendukung pak Jokowi. Jangan kaget loh ya?.

Kalau nanti LBP tetap tetap menkosaurus ketika prabowo presiden jangan misu-misu loh ya? Om sandiaga jadi menteri pak jokowi kalau menang dua putaran jangan kecewa loh ya.

Kita rakyat yang di bawah sudah terlalu sering di obok obok perasaannya persis seperti sapi tiap hari susunya di peres-peres tapi “ngak di kawin-kawin” coba bayangain. Pada ngerti ya sekarang. Kapokmu kapan? Wis to lah sekarang biasa aja deh. #peace

WHAT AN ATTITUDE!


Sedikit kita menengok ke negara India, saya melihat terdapat peningkatan kegairahan baru di India. Ekonomi nya terasa meningkat di banding 5 tahun lalu.

Dua tahun berturut turut ekonomi India tumbuh di atas 7 % dan bisa di bayangkan dengan populasi 4 kali Indonesia, tumbuh 7% itu raksasa sekali pergerakannya. Dan selanjutnya mereka “mark” tandai dengan pertumbuhan di atas 8%.

Namun India tetap India, Kumuh, Lengket, Bau, terutama di city dweler atau urban problem dengan banyaknya gelandangan dan kaum slum ini.

Suatu sore saya silaturahmi berkunjung ke teman saya yang baru pulang dari India, Berharap mendapatkan oleh-oleh dari negara yang katanya akan menjadi calon raksasa ekonomi dunia. Sesampainya disana saya sudah ditunggu oleh teman saya dan dengan raut muka antusias dia berkata kepada saya, “EDAN BRO..!”

Singkat cerita dia bercerita kepada saya mengenai pengalamannya di negri para Dewa tersebut. Suatu Sore, dia keluar dari hotel hendak cuci mata di pusat keramaian setempat. Sepanjang jalan banyak anak-anak menjual souvenir. Dan sangat annoying, mengganggu sekali. Mendesak-desak terus. Terutama ada satu anak usia 12 tahunan kira-kira. Dia sampai gerah karena hampir 1 jam anak itu membuntutinya dengan berbagai cara jualan.

Kalau sebagai sales saya akui ini anak tough deal. Tapi sebagai korbannya, teman saya merasa seperti di bully.

Puncaknya dia berkata, “sorry kid, not interest”.

“But sir, this good souvenir for you family and friends”, katanya beralasan.

Dalam hati teman saya, waduh, magnet tempelan kulkas sudah banyak cuy!

Dia pun berkata lagi, dengan muka jutek. “Listen kid, 200 rupee its good price but i don’t need that souvenir”. Catatan 1 dollar amerika sama dengan 65 rupee, atau harga tersebut sekitar 40 ribu rupiah lah kira-kira.

Kemudian teman saya mengeluarkan uang 50 rupee dengan niatan supaya dia stop draging ngekorin kemana-mana. “There you go..” teman saya menyodorkan 50 rupee tadi ke tangannya, sekitar 10.000 rupiah.

“What is this sir?” Di bertanya dengan muka mengkerut.

“Take it, its your!” jawab teman saya.

“Do you think i m beggar ?” katanya nyolot, “i am a sounevir sales sir, take back your money. Just buy my souvenir , we all done”.

Teman saya tersentak kaget dengan jawabannya, not beggar! Kata teman saya dalam hati, “gue kagum dengan attitude nya. saya bukan pengemis, saya penjual souvenir!”

Mengapa teman saya tersentak dengan jawaban itu?

Kemarinnya, teman saya ber 10 mengadakan tour visit ke sebuah tempat wisata 1 jam dari jaiupur, tengah jalan bus mereka ban nya kempes. Lalu mereka turun dari bus. Di luar panas sekali dan ada seorang bapak tua lewat jualan es teh, di panggul.

Mereka memesan beberapa minuman karena memang udara panas terik. Ketika bus akan jalan mereka bertanya berapa harga nya atas 12 gelas es teh tadi, dia berkata 150 rupee. Murah sekali, itu komentar mereka saat itu

Teman saya pun mengeluarkan dan memberinya 300 rupee dan berkata, “take the change”. Kata-kata : “ambil saja kembaliannya” adalah bentuk apresiasi mereka atas jasanya. Yang di jawab, “No sir, this your 150 rupee..i am not a beggar, i am a tea seller.”

Kata-kata not a beggar membekas sekali di hati teman saya, sampai saat ini.

Dan besoknya, seorang anak 12 tahun, di hadapan teman saya berkata yang sama, i am not a beggar!!! What an attitude!!!!

Ini kalau begini India bisa menjadi negara yang besar seperti jaman bharata sebelum inggris masuk mengoyak tradisi dan kebesaran bangsa bharata ini.