TOL JOKOWI VS JALAN RAKYAT

 

Sewaktu perjalanan ke Kota Madiun untuk menghadiri acara Jambore Nasional, kami berangkat dari Bekasi dengan kondisi bimbang soal pemilihan jalur yang akan dilalui. Mengingat mayoritas rombongan touring menggunakan mobil yang sudah cukup berumur dan tidak sedang dalam kondisi fit.

Tapi namanya anak club modalnya cuman nekat dan bismillah, susah senang jalani bareng. Prinsip ini sebenarnya lumayan meningkatkan moral para driver ketika membawa mobil dengan jarak tempuh jauh.

Singkat cerita, setelah berdikusi panjang dengan rombongan touring kami berangkat menggunakan jalur selatan dan pulang menggunakan jalur utara. Terdapat sebuah pengalaman menarik ketika saya melewati kedua jalur tersebut.

Ada sebuah Pameo yg berkata,

Jika Kau Ingin KEKUASAAN Kuasai UTARA, Jika Kau Ingin KEHARMONISAN Kuasai Selatan ..

Kalimat tersebut pertama kali terdengar oleh saya ketika jaman kuliah dulu. Kondisi masih getol-getolnya suluk (baca: ngaji laku) pada waktu itu. Nampaknya kalimat ini diterapkan betul oleh Rezim Presiden Jokowi saat ini.

Kondisi jalur Utara Jawa (pantura) yang semula hancur lebur di sulap menjadi jalan tol yang mulus dan serasa privasi jika melewatinya alias sepi. Tarifnya pun bukan maen, cukup menguras kantong yang tak kunjung bertambah tebal.

Sedangkan kondisi jalur Selatan tidak sebaik kondisi jalur Utara. Akibatnya setiap orang yang hendak melewati jalur ini mau tidak mau harus ekstra waspada. Sehingga banyak masyarakat yang memilih touring alias beramai-ramai untuk melewati jalur selatan (termasuk saya).

Secara perhitungan ekonomi sederhana, jalur tol trans jawa ini lama balik modal. Jika hari raya lebaran di gratiskan, jika tidak hari raya sepi kendaraan yg lewat. Artinya ini adalah kontrak kekuasaan yang harus dibayarkan oleh Republik Indonesia kepada Cina selaku pemberi pinjaman dana pembangunan tol trans jawa. Selama dana belum lunas, ANAK CUCU diperas. No Money no Honey, No Fulus Lu Mampus..

Saya sih sebagai Ontohod Rider’s tidak terlalu pusing (baca: bodo amat) sama gituan. Dinikmatin saja yang penting jarum speedometer mentok, toh juga polisinya horak ono, dan lagipula saya lewat tol sama dengan bantu bayar utang negara..

Jadi bagaimana ini bapak Presiden, Mau solusinya? Wani piro? Namanya juga Ontohod. Hehehe #peace

EKONOMI SEBAGAI INSTRUMEN PERANG DUNIA III

Apa yang terjadi di fundamental ekonomi Indonesia saat ini dengan rupiah 15.000, minyak mentah USD 80 per barrel, Amerika terus menaikan suku bunga dollar dan terjadi perang dagang serta perang tarif di berbagai wilayah yang dilakukan oleh Amerika?

Akan kah Indonesia aman atau terjadi “tight money”? akankah perang tarif dan perang dagang malah membuat Amerika bermasalah? Atau malah membuat China negara kuat?

Dalam 2 buku geopolitik berjudul Thucidides dan War by Other Means kita akan kupas naifnya bangsa Indonesia melihat permainan tingkat tinggi beberapa negara adikuasa itu. Terlalu “casual” terlalu ngegampangin kesannya.

Dalam buku War by other mean, instrumen perang yang dipakai saat ini adalah ekonomi. Bukan lagi combatan ala perang dunia kedua atau perang inteligen jaman Cold War ala James Bond.

Kali ini instrumen perangnya adalah ekonomi. Hingga rincian terdalam perang by other mean ini terinci dalam perang dagang, perang cyber, perang legal (legal warfare). Semua disusun dan terbangun rapih semisal perang sipadan ligitan yang diambil Malaysia dengan cara legal warfare.

Timor Timur diambil dengan economic warfare. Rupiah di serang dari 3000 ke 15.000 selain Timor lepas, lalu sebuah rezim 32 tahun juga rata tanah, harga aset BUMN dan swasta bertumbangan jadi tinggal 20% nilainya di beli murah kapitalis di panen raya oleh JP Morgan, Goldman sach salah satunya tool yang mereka pakai saat ini dipakai juga di kedua posisi calon presiden 2019.

Di sisi pak Jokowi ada pak Rosan di sisi pak Prabowo ada pak sandi sebagai pemain yang menfaatkan peristiwa tahun 1998. Panen akbar mereka, harga aset tinggal 20% banyak di sapu oleh mereka. Kemudian di jual di harga normal kurang dari 5 tahun kemudian. Triliunan aset mereka bertumbuh hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun

Mereka berdua adalah sedikit dari orang yang mendapatkan manfaat dari serangan economic warfare yang dimanfaatkan sebagai peluang memperoleh kemakmuran dari sebuah kebodohan rezim.

Bisa kah ini kejadian kembali? Banyak yang merindukan peluang itu. Saat ini lain karena swasta tidak terlalu bermain. Hanya BUMN. Inilah masa harga BUMN menjadi genting. Percaya kan kalau ada tsunami kecil ketika economic hitman menyerang lagi maka hanya BUMN yang Collaps? Siapa mau ambil peluang?

Kembali ke war by other mean. Perang cyber jagonya Rusia. Rusia jago sekali perang hybrid yang menggunakan tool salah satunya cyber. Demi memecah Eropa, brexit Inggris di provokasi melalui cyber dan mempengaruhi jajak pendapat penduduk Inggris. Sehingga Inggris keluar dari Uni Eropa.

Cyber Rusia memenangkan Trump dimana Rusia anti sekali dengan Hillary Clinton yang kalau jadi presiden bisa “menyikat” Rusia, lebih baik Trump yang jadi presiden. Trump di sebut “known devil” iblis yang mereka kenal ketimbang Hillary yang dikenal dengan istilah “the unknown devil” iblis tak di kenal.

Rusia pakai data FBI di crack email Hillary di sebar hanya 12 jam sebelum pemilihan presiden.

Dalam Thucydides di jelaskan mengenai perang menggunakan foreign policy dan defence policy. Dengan kebijakan luar negeri juga kebijakan pertahanan. Ini di Indonesia nol besar memahami dan menyelesaikan masalah beginian.

Nation Interest negara besar itu tidak terbaca. Tidak memahami dalamnya setiap niat mereka. Tidak mengerti membaca langkah catur negara besar tersebut. Seperti pemerintah China yang mendukung ekonomi Indonesia namun juga tetap menyuplai narkoba di banjiri ke Indonesia dari China.

Amerika mendukung Indonesia menjadi tuan rumah IMF tetapi belum tentu memberi dana hutangan buat menutup APBN.

Kebijakan Indonesia melawan thanos namun bergantung 70% produk eksport Indonesia ke negara Thanos. Mendukung dan bermain sama negara penyedia import Indonesia.

Pengalaman pebisnis biasanya adalah “memanjakan “ divisi sales dan marketing di dalam perusahaan dan memanjakan klien atau customer yang membeli produk kita. Dan berusaha mengurangi supplier di luar (impor).

Ini terbalik, deket deket dengan supplier, main-main dengan supplier, customer malah di tekan dan tidak di perhatikan.

Pengalaman saya sih sebentar lagi perusahaan seperti begini ya “collaps”. Customer pelanggan ya pindah. Coba aja kalau ngak percaya. #ngopipagi

BISNIS ITU SEDERHANA KALAU TAHU KEMANA ARAH KAPAL

Investasi panjang atau pendek. Property adalah termasuk bisnis jangka panjang. Retail adalah bisnis jangka pendek. Ini adalah contoh pemahaman sederhana agar memahami apa yang dimaksud dengan investasi jangka panjang atau jangka pendek.

Bisnis manufaktur adalah bisnis jangka panjang, trading adalah bisnis jangka pendek. Bisnis jangka panjang pendapatannya kecil tetapi stabil dan pasti, bisnis jangka pendek sering cepat, besar namun mempertahankannya sulit karena ada “musim” dan kompetitor masuk.

Bisnis jangka panjang berbasis kebutuhan “needs” bisnis jangka pendek berbasis “wants”. Pangan adalah bisnis jangka panjang walau terlihat seperti jangka pendek dengan misalnya mendapatkan panen setiap tahun 2 kali. Seperti padi, jagung dan tanaman jangka pendek lainnya, timun, cabe dll. Benar jangka pendek namun pangan masuk bisnis jangka panjang.

Unsur hara pada tanah kalau tidak di beri pupuk yang pas, pengetahuan bercocok tanam yang mumpuni, maka di tahun ke 7 lahan menjadi rusak dan tingkat kesuburan di lahan tersebut tinggal 40%, sudah tidak layak tanam. Ini mengakibatkan petani atau peladang harus pindah lahan. Lahan harganya? Naik lah kalau sudah 10 tahun.

Bisanya bisnis ayam, bebek, kambing atau sapi, terlihat jangka pendek. Tiap lebaran haji bisa panen jual kambing atau sapi, kebutuhan daging meningkat terus, buktinya import. Sekarang saya tanya, dari 10 orang berbisnis ternak berapa yang bertahan 5 tahun kedepan?

Sekali lagi pangan bisnis jangka panjang.

Bisnis retail, perdagangan, handy craft pengerajin itu bisnis jangka pendek itu bisnis musiman. Kita buktikan datang ke toko busana, H&M atau Zara, busana tersebut tiap 2 bulan ganti mode ganti pemenuhan kebutuhannya.

Datang ke matahari mall, busana yang jual bukan fashion, hanya penutup badan. Saya berani berkata bahwa bisnis busana matahari 5 tahun lagi akan tergulung bisa 50% gerai tutup kalau seperti ini kelolaannya.

Busana adalah bisnis musiman, bergeser cepat sekali sehingga kalau main di bisnis ini cepat naik, dan cepat turun kalau kita tidak kreatif atau up to date. Juga bisnis rumah makan, cafe, itu bisnis “seasonal” kalau salah target market.

Resto atau cafe yang pakai dekorasi “instagramable” semakin banyak dan tidak jadi ukuran lagi sekarang untuk visit. Kita datang ke sushi tei sudah tahun ke 10 tidak membuat instagramable tetapi mengganti design interiornya. Ambiance nya di ganti. Starbuck misalnya lagi, mengganti menjadi abu-abu dan warna kayu dominan,. Hijaunya sedikit hanya di logonya.

MC donald sudah mengganti dengan menambah kursi tak bersender di gerainya, juga KFC. Mereka semua tidak bergeser ke “sudut yang bisa buat foto”.

Dalam investasi, penting untuk memahami bisnis jangka panjang atau jangka pendek ini.

Dalam mengatur sebuah keuangan harus punya pendapatan jangka pendek dan bermain di bursa saham adalah salah satu portofolionya. Ciri ciri jangka pendek atau menengah kit gampang exit dan liquid. Bursa saham salah satunya.

Berikutnya adalah investasi di bidang makanan tetapi hulu. Seperti biasa, tidak retail atau ngecer tetapi pasar korporate. Menyuplai roti ke hotel-hotel. Di jawa timur dan bali karena kitchennya di malang dan bali. Ini liquid karena bayar mundur mingguan namun pasti bayar. Bukan yang laku saja di bayar. Tetapi yang di pesan ya di bayar semua.

Sekarang kalau negara bagaimana? Bagaimana membangun agar anggaran pendapatan terjaga dan belanja negara selalu terpenuhi.

Negara itu bukan pedagang. Negara itu pengatur ( regulator). Karena itu kalau mau mendapatkan “stabil” negara fokusnya di pajak. Bukan di proyek BUMN. Pajak di ambil dari pebisnis yang tumbuh subur dan gampang sukses.

Tumbuh subur dan mudah berinvestasi adalah REGULATOR memainkannya. Itu namanya pro swasta. Seperti kembali meniru negara maju seperti singapura, negara eropa, jepang, korea selatan. Jangan meniru negara agresor seperti amerika atau china. Apa lagi main sama mereka, di makan pastinya.

Senjatanya amerika adalah milter (preman) senjatanya china adalah proyek ekonomi. Makanya gerakan semua sendi masyaralat berbisnis, jangan kelompok BUMN saja. Masak rakyat hanya di suruh keplok-keplok di peresmian proyek. Dan disuruh viral-viral bangun proyek. Tapi di sisi oposan cobalah jangan juga nyinyir, mana proposal platform solusi buat bangsa ini? jangan kritik tok apa yang sudah di kerjakan orang lain.

Sekarang kita tanya, mau tumbuh ekonomi tanpa neraca defisit dan mata uang lemah? Ya hayoo kita kasih solusi. Pertama pahami pelajaran nominator dan denominator selanjutnya setelah memahami investasi jangka pendek dan jangka panjang, lalu memahami kondisi dalam negeri lagi BOOM atau BUST. #ngopisiang

PETA DUNIA BERGESER LOH

Penting memahami peta nasional ataupun internasional di dalam kita memahami apa yang terjadi saat ini. Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari jejak “yang terjadi” saja lalu menganalisanya. Kita harus juga harus memahami apa isi otak “man behind the gun”. Supaya bisa mengantisipasi kedepan apa yang akan terjadi.

Kita mulai dari pemahaman nasional dari opini beberapa orang pakar dan beberapa pendapat orang yang berpengaruh. Ada sebuah fenomena yang terjadi saat ini yaitu melemahnya peran tentara dan terbelahnya umat islam. Dan dalam skenario seperti ini maka mata panah tertuju pada satu pendapat, hanya PKI yang berfikir begini (melemahkan Tentara dan umat).

Ini bukan PKI seperti yang di bayangkan tahun 1965 maksud mereka, bukan. Tetapi ada yang mendopleng strategi “bermain” ala PKI dikalangan pemegang kekuasaan dengan melemahkan 2 ornamen penting bangsa indonesia, TNI dan Umat Islam. Keduanya terbelah. Kelompok itu di sebut free rider alias penumpang gelap.

Salahkah pemahaman itu? Tidak

Benarkah pemahaman itu? Kita bahas perlahan. Tapi janji loh jangan di bawa tulisan ini kepolitik, awas loh ya. Saya bisa memilih “shut down” kalau ini di bawa ke ranah politik. Padahal ini adalah informasi berbasis ilmu pengetahuan. Ada teorinya di akademi saya dulu menangguk ilmu.

Latar belakang sekilas. Berdasar 3 buku baru yang sedang saya baca Fear, Asian water dan china private army maka peta dunia bergeser jauh. Jauh dari pemikiran liar saya sekalipun.

Misalnya, memahami Trump yang punya kecenderungan kejiwaan narcicism apakah penting? Tidak juga. Adalah lebih penting memahami “yahudi zabbatai” dibelakangnya Trump. Yang ternyata berseberangan dengan yahudi ortodox.

Yahudi ortodox pro israel. Zabbatai lebih pragmatis. Kaum zabbatai ini di gabung dengan kaum mormon di wallstreet adalah mayoritas pemegang keuangan. Rockefeller, rothschied, oppenhimer, muzin, ican, zukker adalah sedikit nama yang dia lagi dia lagi berputar sudah 4-5 generasi di wallstreet.

Catatan pengingat, wallstreet bukan NYSE stock exchange loh ya?

Kembali ke paragraf atas, kita harus juga bisa membedakan IMF. IMF itu bukan wallstreet. Amerika (state) itu bukan IMF bukan wallstreet.

IMF dengan lembaga rating S&P standars and Poors atau Moodys nya bisa saja memberikan sebuah negara investment grade. Tetapi goldman sach, merill lynch malah menurunkan grade investasinya. Goldman Sach atau JP morgan represent mewakili wallstreet, moodys mewakili IMF.

Jangan mentang mentang berkata sebuah lembaga rating IMF menaikan rating terus berpendapat sebuah negara itu bagus investasinya. Ngak begitu juga, investor swasta lebih melihat wallstreet punya pendapat.

Sisi pemerintah amerika mana misalnya? US INDO PASIFIC mewakili negara amerika yang saat mencoret china dari US Paccom, pasific command. Dari sisi ini sudah 3 mahluk berbeda yang kita bicarakan. Bahkan di wallstreet saja sudah ada beberapa mahluk disana yang berbeda. Mulai jelas?

Jadi sebuah negara mungkin saja di sukai IMF belum tentu di dukung pemerintah amerika. Sisi lain kalau wallstreet setuju banyak setujunya pemerintah amerika dengan mereka (mendukung sebuah negara).

Kita lanjut sisi swasta, dengan sebuah pertanyaan siapa sih di belakang alibaba? alibaba listingnya dimana?

Alibaba listing di bursa NYSE dan siapa pembeli terbesar? Ehem..zabbatai ya amerika juga. mulai faham peta dunia saat ini? Mulai faham “how the world work” saat ini?

Mengerti sekarang mengapa jack ma selalu memuji zuckerberg, charles kushner dan warren buffet di setiap ada kesempatan? Ternyata “engine” nya alibaba ya sisi dia lagi dia lagi. Di atas kapitalis ada kapitalis ternyata.

Pemerintah China bagaimana? Xi jing ping jadi raja china dengan jabatan presiden sampai mati ini harus di awasi dengan seksama. Ideologi OBOR itu senjata cakra nya xi jing ping. Bagaimana peta china kemudian? Tak ada IMF di sana tapi wallstreet besar di china.

Perang dagang terhadap china yang dilakukan Trump ternyata sejalan dengan wallstreet (baca: maunya wallstreet). Wallstreet kemarin tumbuh rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Duh, pengen deh meneruskan menulis, tetapi memang ada yang butuh? Kayaknya ngak banyak minat beginian. Ok lah, selamat berpolitik saling serang. Saya hanya maunya sih meluruskan pengetahuan saat ini, sambil nanya, emang minat? #ngopipagi

MENENTUKAN KEUNTUNGAN, MENENTUKAN MASA DEPAN BISNIS

Kembali ke bisnis adalah “science”. Bisnis itu matematis dan harus bisa di hitung sebagai ilmu pasti. Kalau mereka berbisnis hanya berdasar, perkiraan-feeling-coba-coba, bukan salah namun “peluang” anda kecil untuk makmur cepat dan kerja anda berat.

Kita ini mau cari uang khan? Bukan kerjaan yang kita cari, setuju? Maka mencari uang dengan berbisnis harus mengerti dasar matematis perhitungannya. Kita mulai dengan pengandaian.

Kita ambil treveloka sebagai contoh pertama.

Rumus : Nominator di bagi denominator harus “plus” atau positif. Alias harus lebih besar NOMINAL atas dari pada pembagi dibawahnya.

Nominator dalam traveloka adalah jumlah hotelnya. Kalau jumlah hotelnya banyak maka “traveler” atau para denominatornya senang. Namun nominator sebelum masuk melihat dulu banyak kah denominatornya. Karena denominator itu “pasar”. Sedangkan nominator itu di sebut “kompetitor” pesaing.

Dari mana mulainya? Ambil pasar tanpa nominator, pasar hilang. Ambil nominator tanpa pasar ya rugi bandar. Mana yang harus duluan?

Sekali lagi, dalam perhitungan matematis maka “nominator harus lebih besar dan selalu positif”, Itu kunci bisnis. nominator harus di pertahankan lebih besar dari denominator.

Lalu untuk memulai bisnis itu mana yang harus di dulukan, pembaginya atau nominatornya? Bagaimana menjawab pertanyaan ini?

Disini kita harus faham melihat pasar. Kita harus paham melihat “pain point” masalah siapa yang mau di pecahkan terlebih dahulu.

Bisnis itu “besar nilainya” ketika kita menyelesaikan dua masalah “pain point” nominator dan denominator bersamaan.

Go-jek sekarang kita ambil sebagai contoh kedua.

Mana nominatornya mana denominatornya go jek? Mereka dari sejak pertama benar menarget ojeknya. Mereka tahu macet jakarta akan membuat pasar kebutuhan transport besar. Jadi gojek fokus di ojeknya.

Maka memiliki 10.000 supir ojek menjadi penting terlebih dahulu dan mereka memfokuskan membuat “happy” supir ojek. Mana yang mereka buat “happy” terlebih dahulu di jadikan denominator.

Ketika 500.000 user dengan 10.000 ojek maka supir ojek panen. Setiap bulan bisa bawa pulang 10-15 juta waktu itu. Lalu berita tersebar meluas dan gojek di serbu ojeker. Sampai 100.000 dimana usenya tetap sehingga 1 supir ojek hanya dapat 2 jutaan. Kalau mereka kecewa ojeknya maka bisnis akan merugi di gojek, maka iklan gede-gede an, ambil lagi nominator sampai 4 juta orang. Begitu bolak balik samapi ketemu “critical mess”.

Grab sekarang, karena belum ketemu critical mess, maka grab masih iklan sana sini. Mencari nominator dan denominator. Jadi pasti lebih murah naik grab sekarang. Dan grab serius garap pasar transportasi. Grab is the winner. Gojek fokus ke payment, transportasi menjadi pelengkap saja.

Kembali ke nom dan denom. Jadi kunci bisnis adalah, ‘mana yang mau di buat happy terlebih dahulu’ jadikan denominator, jadikan pembagi.

Traveloka ingin menyenangkan traveler, maka traveler menjadi denominator. Go-jek ingin menyenangkan supir ojek, maka supirojek menjadi denominator. #ngopipagi