MEDIA PROPAGANDA

Kalau saya mengatakan apa yang ada di media sosial saat ini adalah bagian dari warfare, setujukah sahabat? Kalau saya mengatakan 50% tulisan yang beredar saat ini di media sosial sudah tersusupi hal-hal yang berbau negatif dan prasangka maupun opini, setujukah sahabat?

Saya akan mencuplik dari buku sejarah dimana saya mencoba mengarahkan dengan berbagai kalimat untuk menguji beberapa hal termasuk kesensitifan respon sahabat.

Yang saya mau cek adalah, apa yang dimainkan dalam “media propaganda” dilakukan sangat terencana oleh master planner. Dalam teori dasar propaganda adalah dengan membenturkan dua perbedaan. Karena otak manusia selalu memiliki satu tempat di satu masa, yang lainnya data mengantre. Apakah data tersebut sudah masuk dalam pikiran sahabat ?

Saya akan menerangkan mengenai antrean data di kepala manusia ini di lain kesempatan. Sekarang adalah tentang media propaganda, jadi untuk memberi data dibenturkan dua hal dalam satu masa.

Saya mencoba memancing respon, “Ah tulisan ini mau arahkan bahwa Islam itu dari China. Islam di Indonesia bukan dari China. Wali Songo bukan China, ” dan banyak komentar yang sesungguhnya itulah respon yang saya butuhkan. Sudah seberapa sensitif mengenai “ke-China-an” dan kebencian China di kepala.

Bagi saya itu semua adalah data. Karena artinya propaganda sudah masuk ke dalam pikiran banyak orang. Dan dalam propaganda memang itu tekniknya. Yaitu dengan membenturkan dua data yang ekstrem berbeda.

Misalnya dibenturkan, kaya miskin, dibenturkan antara Islam Kristen, dibenturkan antara China Islam, dibenturkan antara Penguasa dan Rakyat Tertindas. Oke, kalau ada sahabat yang mulai berkerut kening saya paham sekali. Ini adalah propaganda, dibenturkan antara kezaliman kekuasaan dan korbannya. Semuanya tujuannya satu, menarik simpati dengan teknik faschinate dalam teori pikiran.

Berikutnya adalah dengan menggunakan kalimat generalisasi. Begini contohnya, kalimat pertama adalah “Al-Maidah dihina”, diviralkan selama satu bulan. Lalu “Al-Qur’an dihina” diviralkan selama satu bulan. Yang “menghina Al-Qur’an Ahok” diviralkan satu bulan. Ini adalah fakta, dan ini adalah benar dan ini tidak bisa disangkal.

Lalu mulai provokasi berikutnya, “Ahok China, China menghina Al-Qur’an”. Nah ini yang saya sebut generalisasi. Ini bukan kebenaran, ini provokasi. Lalu ditambah lagi “Sepuluh juta pekerja China di Indonesia” mengambil pekerjaan bangsa Indonesia.

Ini menggabungkan dua hal. Satu hal yaitu dibenturkan “miskin pengangguran” versus pekerja China (yang datanya fiktif) untuk mendapat simpati dan menimbulkan marah (tujuan provokasi). Kemudian timbul (benci China).

Fakta sebenarnya adalah, Ahok ya Ahok. Ahok China adalah fakta, tetapi China adalah Ahok itu bukan, itu provokasi, itu penistaan SARA.

Dalam tulisan ini kalau sahabat berpendapat saya pendukung China, itu opini yang boleh dibangun, tetapi karena saya harus menulis dengan tujuan pembelajaran, saya menulis dengan fakta keadaan saat ini agar mudah dicerna. Sesungguhnya maksud saya dengan tulisan ini adalah mengingatkan bahwa “media warfare” itu dilakukan dengan sengaja untuk menggoyang Indonesia. Dan yang menggoyang bukan FPI atau ormas. Kita semua putra bangsa. Saya harus mengingatkan, banyak ormas dan kelompok putra bangsa, kalian ditunggangi.

Siapa yang menunggangi? Sekarang saya tanya, bisakah sahabat merenung sebentar dan mencari kebenaran atas informasi ini? Percaya saya, tidak ada keberanian yang muncul dari seseorang, kalau tidak ada back up. Semakin kuat yang mem-back up, seseorang atau sekelompok orang akan semakin berani.

#untukpilpres_2019

BAGAIMANA BISA MENEGAKKAN BENANG YANG TERLANJUR BASAH

BAGAIMANA BISA MENEGAKKAN BENANG YANG TERLANJUR BASAH

Bocornya email madam secretary hillary tepat 1 malam sebelum pilpress raya membuat hancur reputasi hillary dalam semalam dan Trump menang. Siapa yang tidak ingin hilarry berkuasa itulah pemainnya? Yaitulah bagian dari Sharapova 4.0

Serangan dukungan brexit, keluarnya inggris dari uni eropa tepat 2 hari sebelum referendum membuat suara mayoritas inggris setuju inggris keluar uni eropa mengagetkan banyak pengamat kebijakan luar negeri termasuk penjabat negara inggris kala itu. Pengaruhnya brexit adalah uni eropa jadi lemah.

Siapa yang ingin eropa lemah? Itu yang bermain di brexit.

Lalu kencangnya pendukung catalan yang ingin merdeka yang bisa membuat liga classico pertandingan klasik el real dan barca tinggal sejarah kalau basque pisah dari spanyol. Goncangan referendum tersebut ada yang mainkan dengan cantik via sosmed dan media digital. membuat spanyol goyang, membuat eropa lemah.

Ini siapa si belakang catalan?

Lalu lain lagi dengan Arab spring di mesir di awali dengan kelangkaan gandum rusia yang gagal panen karena panas berkepanjangan di rusia dan serangan via media sosial membuat revolusi mesir yang menumbangkan islam versi ikhwanul muslimin adalah contoh serangkaian geopolitik dunia yang dimainkan 3 negara besar. Ujungnya adalah ingin benefit dari sebuah wilayah.

Terlalu naif bahwa suatu negara konstalasi politik terjadi “tanpa” campur tangan negara lain yang sedang cari “untung” di negara tersebut.

Di INDONESIA bagaimana?

Negara yang di untungkan ketika seseorang menjabat nantinya pasti akan memberikan dukungan mati-matian demi kelancaran masa depan mereka di sebuah negara. Itulah pendukung sang calon.

Saat ini kita sudah tahu negara seberang mana yang “di untungkan” selama incumben menjabat, bener kan begitu? Kita sudah tahu negara yang di untungkan dalam beberapa tahun ini.

Pastinya dia (negara tersebut) ingin lebih lagi di untungkan, lewat mana? Mereka pragmatis pastinya. Tetapi jalan lama pasti di pakainya lebih mudah.

Kalau sisi lawannya siapa? Gampang bacanya. Siapa negara yang di rugikan selama ini? pastinya mereka yang kurang di untungkan akan lari mendukung ke seberangnya. Dan kali ini pun kita sudah bisa memastikan negara mana yang “sial” dengan incumben. Pastinya kalau mau untung di masa depan di indonesia dukung seberangnya atau setidaknya main dua kaki.

Jadi itulah kenapa pilihan politik saya yang anti asing ini nggak nyaman dengan strategi keduanya. Saya kalau boleh dukung ya dukun paslon no 10, dukungan saya ke si tronjal tronjol itu. Ngak ada oligarki di sekelilignya, tidak ada plutokrasi di sekelingnya dan tidak ada geopolitik di seberangnya.

Sayang ya kalau seorang dan kelompoknya demi berkuasa meski “nyender” ke asing. Atau tersandera oleh asing. Kapan punya negara yang bersandar ke anak bangsanya sendiri, kekuatan alamnya sendiri, ke potensinya sendiri dan mempengaruhi negara lain. #peace