BERSIAP PRIHATIN 6 BULAN KE DEPAN

Proyek jangka panjang seperti infrastruktur adalah proyek yang revenue atau arus masuk uangnya di atas 10 tahun baru ada benefit langsung. Sangat pelan 5 tahun pertama.

Dalam keadaan BOOM ekonomi dan BUST ekonomi berbeda sifat investasinya. Ekonomi kalau lagi bust malah jangan invest, kalaupun invest adalah invest jangka pendek.

Di sini saya hanya mengingatkan bahwa secara kalkulasi di tahun 2015 itu kita ekonominya BUST, Tapi mengapa investasi jangka panjang? ya mungkin memang tidak bisa baca kondisi. ya tidak apa-apa juga sih, terbukti sekarang kesalahan tadi di 2018 kita kering duit dan rupiah blangsak. oh lupa, sekarang aman sudah ketemu alasan, dollar menguat, bukan masalah keuangan dalam negeri.

Disini mau belajar agar faham berbisnis. namun mulai dari makro dulu baru ke mikro. kita harus mengenal lagi 2 istilah. Investasi jangka pendek dan panjang bagi negara itu apa? BOOM BUST ekonomi itu apa?

Ketika kita melihat masalah domestik, atau kalau kita menggunakan bahasa umumnya istilah domestic adalah masalah rumah tangga. Dalam keadaan rumah tangga memperoleh pendapatan pas-pasan (bust) untuk menjalani hidup kita akan terjebak kalau memaksakan berinvestasi. Investasi cocok jika kita memiliki disposable income yang cukup (boom).

Baik, kita bukan mau belajar tentang mengelola keuangan atau financial planning, gampang itu. Karena financial planning adalah mengatur “uang yang sudah ada”. Kalau uang belum ada apa yang mau di atur? Itu bedanya apa yang mau kita diskusikan sekarang. Bagaimana “membuat” uang itu lebih penting.

Bagaimana membuat uang dimasa ekonomi ketat atau kontraksi seperti sekarang ini? nah itu tantangan yang menarik. Kalau buat uang di ekonomi boom ngak usah belajar banyak, nyebur saja. Kalau membuat uang di masa bust, nah itu perlu skill khusus. Jam terbang panjang baru bisa dan kita akan perpendek, bagaimana? Setuju.

Nomor satu jangan pernah salahkan ekonomi kita dengan masalah global, masalah luar negeri jangan di campur dulu. Hanya menteri yang “cemen” yang bilang kalau Indonesia ekonominya “shrinking” karena imbas global, sekali lagi pengamat ekonomi, atau guru ekonomi atau menteri pejabat Negara kalau ngomong seperti ini kita beri nama “cemen”. Sudah segampang itu kita kasih nama untuk mereka.

Kita bukan orang cemen. Kita beda, kita buat uang di masa bust, caranya? Kita awali dengan memahami bahwa ada 4 hal yang kita harus kenal dalam bidang ekonomi mikro termasuk kebutuhan sehari-hari. Ke empat hal itu adalah “gaya hidup”, “keluarga”, “bisnis” dan “investasi”.

Dalam kompartemenisasi mengelola ekonomi rumah tangga, masalahnya ada di 4 hal ini. Bagaimana anda meletakan di ke 4 slot tadi menentukan tingi rendahnya “financial quotation” anda, atau istilah saya “prosperity conscious” atau kesadaran kemakmuran.

Kita ambil contoh, kita mau beli smartphone, harga range mulai dari 1 juta hingga 15 juta. Fungsi sama, manfaat sama. Harga berbeda, gengsi berbeda, mana yang anda pilih?

Anda pilih Iphone, anda masuk “gaya hidup”, anda pilih Samsung atau anda pilih Oppo kolomnya geser ke “bisnis”. Mengapa? Karena Samsung atau Oppo harga bekasnya stabil, alias harga dan fungsi uang yang anda manfaatkan masuk “bisnis” kolomnya.

Sekolahkan anak. Ini bisa masuk kolom “gaya hidup” kalau anda sekolahkan ke global bintaro, bisa masuk kolom “keluarga” kalau di SD negeri, bisa masuk kategori “investasi” kalau sekolah di cikal atau mentari karena anak gubernur dan menteri sekolah di sana. Bayangkan, sekolahin anak saja bisa masuk beda kolom.

Secara perhitungan uang, ya pasti lebih biaya nya mahal di banding negeri, tetapi disitulah permainan pengelolaan portofolio.

Jadi, setidaknya kita harus pandai memilah portofolio keuangan kita, uang masuk dan uang keluar. Dan bagaimana uang dikeluarkan sesungguhnya kunci yang membuat seberapa cepat uang masuk kembali ke kita.

Kita sepanjang ini menulis, tujuan nya satu, menindak lanjuti tulisan sebelum ini tentang boom and bust ekonomi. Dan untuk memahami boom bust tersebut harus faham mengapa ekonomi ada yang boom dan ada Negara yang ekonominya menjadi bust. Hanya karena “salah” meletakan uang keluar dan cara uang masuk.

Sejauh ini saya meggunakan ilustrasi keuangan keluarga agar faham, dan di saat kita berbicara tentang kuangan organisasi atau perusahaan kurang lebih sama “platform”nya, dan demikian pula dengan APBN, atau pisahkan dua AP anggaran pendapatan dan BN belanja Negara.

AP adalah uang masuk, BN adalah uang keluar. Yang membuat pusing pemerintahan sekarang karena masih gagap menjadikan Gap AP dan BN sekarang “short” 365 triliun yang bingung “cover gap” nya akhirnya “cemen” milih utangan. Eeehmmm mau di tolong ngak nih?

Perilaku Politik Tanah Air

Tulisan ini untuk mereka yang berusia di bawah 40 tahun agar mengerti apa itu perilaku Politikus di tanah air Indonesia.

Fakta data : Pemilih terbanyak usianya di bawah 40 tahun pada saat pilpress dan pileg di 2019 dan dari data 60% adalah di usia ini. Makin kebawah usianya makin banyak hal yang mereka kurang informasi akan perilaku politikus sebelumnya.

Berbeda dengan yang di atas 55 tahun dimana mereka kenal 6 jaman, jaman suharto, jaman habibie, jaman gusdur, jaman megawati, jaman SBY dan jaman Jokowi.

Kita refresh mengingatkan sedikit :
Fadli Zon yang sering di hujat oleh pengemar pak Jokowi itu juru kampanye pemenangan Pak Jokowi dan Pak Ahok dengan baju kotak-kotak nya di pilgub DKI 2012.

Pak Anies baswadan itu tim sukses Jokowi-JK plus mantan Menteri Pendidikan kabinet Kerja. sebelumnya Pak Anies juga peserta capres versi konvensi Partai Demokrat. Anies Baswedan sekarang dekat dengan Jk dan nempel sama Pak Prabowo dan PKS. Padahal dulu Anies sering dituding Syiah oleh PKS. Masih ingat khan semua ini?

Di tahun 2012, Ahok itu yang menjadikan wakil gubernur adalah gerindra berpasangan dengan Jokowi. Ahok yang kemudian ditahun pilgub 2017 oleh pasukan 212 di serang, di dukung gerindra juga 212 nya. 2012 di sayang, 2017 di serang.

Kita lanjut.

SBY bagaimana? SBY itu mantan Menterinya Megawati maju nyapres di tahun 2004 bareng pak JK yang juga menteri megawati didukung Pak Surya Paloh. Sekarang surya paloh dan JK dekat sekali dengan Ibu Mega. 2004 saling serang 2014 saling dukung JK sama megawati.

Ke 08 prabowo sekarang? sejarah pak Prabowo itu dulu adalah calon wapres pasangan Bu Mega ketika pilpres 2009 berseberangan dengan SBY.

Pilpres 2009 Pak JK juga nyapres bareng Pak Wiranto melawan Pak SBY dan Pak Boediono yang di dukung aburizal bakrie. Lalu kemana Pak Aburizal Bakrie setelah 2014? Sekarang aburizal temenan sama Pak Prabowo yang dulu kompetitornya di pilpres 2009.

Kalau Amien Rais.? Ini aneh lagi. Menggulingkan Gus Dur sehingga Bu Mega naik padahal sebelumnya paling tidak sudi Bu Mega jadi Presiden. Dia berusaha keras agar Gus Dur jadi Presiden mengantikan habibie di rapat MPR tahun 1999 pokoknya bukan Megawati. Eh lalu di gulingkan gusdur setelah 1 tahun sebelum nya di gadang gadang oleh amien rais dan naikin megawati. Yang 1 tahun sebelumnya amien alergi sama bu Mega.

Kalo di pikir-pikir Bu mega itu memiliki hutang besar atas jasa Amein Rais menjadikannya presiden indonesia ke 5.

Pilpres berikutnya amien rais melawan SBY. Amien juga berseberangan dengan Prabowo di pilpres 2004 dan 2009. Sekarang Pak Amien Rais akrab dengan Pak Prabowo di kubu oposisi. Padahal dalam agenda tahun 1998 Pak Amien ini target Letnan Jenderal Prabowo utk “di aman kan”. Sekali lagi, prabowo “meng-aman kan” amien!.

Kalau PKS? Semua juga udah tahu ceritanya.Para kadernya menyerang dengan “black campaign” menjatuhkan Pak Prabowo di pilpres 2009 dan pilkada DKI 2012. Lalu sekarang? Berteman akrab sama Gerindra yang selama jaman Pak SBY, PKS adalah musuh bebuyutan gerindra.

Di jaman SBY PDIP & Gerindra oposisi,sementara PKS masuk koalisi di Satgab jaman SBY. Sekarang di “klaim” gerindra PKS mitra lama. Bingung ngak tuh?

Sekarang di 2018 penulis fatwa MUI menjadi calon wapres yang tadinya seakan berada di kubu berseberangan sekarang menjadi satu perahu. Bahkan para pihak sudah menganggap selesai masa lalu (ahok 2017) , sekarang sudah saling memaafkan antara pak Ahok dan pak ma’ruf. Dan hal seperti ini biasa saja di dunia politik.

Ikut angin lalu ubah layar dan “Miring” ke yang lagi akan menang menurut “feeling”nya mereka itu hal biasa. Tadinya lawan karena kepentingan jadi kawan itu biasa. Tadinya saling serang kemudian saling rangkul itu biasa.

Yang kasihan khan para fans, para kaum yang saling serang dengan memberi label seperti cebonger dan kampreter. Mereka sering jadi bingung dengan drama apa di mainkan para elite dari tahun ke tahun ini?

Para fans jadi emosiona,l menjadi murka begitu pujaannya “tidak punya marah yang sama” dengan diri mereka. Para fans masih menggenggam marah, para elite sudah “cikar kanan” vaya con dios cari laen (posisi).

Sebel sama putusan jokowi ambil pak Makruf yang fatwanya menjerujikan ahok, namun tak lama kemudian logika otak mencari pembenaran mulai muncul setelah minum kopi. Akhirnya menemukan lagi alasan untuk membela pujaan dan mencari lagi bahan untuk mencela lawannya. Mulai saling serang lagi.

Karena dasarnya punya marah jadi otak harus terus cari alasan untuk bisa menyerang. Dan nanti kira-kira setelah pilpres baru nyahok. Baru nyadar, oh ternyata pujaannya kalah dan gabung dengan lawan juga dari pada ngak ada jatah.

Lucu khan? Para fans saling serang tetapi elite bisa salaman dan ketawa ketiwi seperti di acara ulang tahun Akbar tanjung kemarin Om sandiaga bergandengan akrab dengan Airlangga dan petinggi golkar. Memang tidak ada apa-apa di acara tersebut. Tapi disini melihatkan, begitu ada angin salah satu menang. Maka kepentingan mulai main. Ikut angin!

Sandiaga menang, golkar merapat ke pemerintahan baru. Minta posisi. Koalisi menang om sandiaga jangan kaget di tawari menteri peridustrian?. Terus kita harus marah gitu? Harus kecewa gitu?

Begitulah sedikit info wahai sahabat muda yang usianya di bawah 40 tahun yang merasa pujaannya akan selalu sama memiliki “rasa” seperti kalian. Jawabnya TIDAK.

Begitu TGB pujaan kalian memiliki pendapat yang berbeda dengan “marah” kalian, langsung memaki pujaan tersebut. Lah yang aneh siapa ya? Jangan pernah berharap pujaan hati kita akan selalu memiliki “marah” yang sama dengan kita.

Misalnya marahnya saya kepada Rinso dan kesalnya saya pada pejabat yang setuju hutang china tiongkok adalah marahnya saya pribadi. Dengan alasan pribadi. Jadi jangan terkaget kaget kalau saya di tawari kredit tanpa bunga 10 triliun agar saya diam tidak nulis di FB saya terima. Atau nanti FPI 212 mendukung pak Jokowi. Jangan kaget loh ya?.

Kalau nanti LBP tetap tetap menkosaurus ketika prabowo presiden jangan misu-misu loh ya? Om sandiaga jadi menteri pak jokowi kalau menang dua putaran jangan kecewa loh ya.

Kita rakyat yang di bawah sudah terlalu sering di obok obok perasaannya persis seperti sapi tiap hari susunya di peres-peres tapi “ngak di kawin-kawin” coba bayangain. Pada ngerti ya sekarang. Kapokmu kapan? Wis to lah sekarang biasa aja deh. #peace

WHAT AN ATTITUDE!


Sedikit kita menengok ke negara India, saya melihat terdapat peningkatan kegairahan baru di India. Ekonomi nya terasa meningkat di banding 5 tahun lalu.

Dua tahun berturut turut ekonomi India tumbuh di atas 7 % dan bisa di bayangkan dengan populasi 4 kali Indonesia, tumbuh 7% itu raksasa sekali pergerakannya. Dan selanjutnya mereka “mark” tandai dengan pertumbuhan di atas 8%.

Namun India tetap India, Kumuh, Lengket, Bau, terutama di city dweler atau urban problem dengan banyaknya gelandangan dan kaum slum ini.

Suatu sore saya silaturahmi berkunjung ke teman saya yang baru pulang dari India, Berharap mendapatkan oleh-oleh dari negara yang katanya akan menjadi calon raksasa ekonomi dunia. Sesampainya disana saya sudah ditunggu oleh teman saya dan dengan raut muka antusias dia berkata kepada saya, “EDAN BRO..!”

Singkat cerita dia bercerita kepada saya mengenai pengalamannya di negri para Dewa tersebut. Suatu Sore, dia keluar dari hotel hendak cuci mata di pusat keramaian setempat. Sepanjang jalan banyak anak-anak menjual souvenir. Dan sangat annoying, mengganggu sekali. Mendesak-desak terus. Terutama ada satu anak usia 12 tahunan kira-kira. Dia sampai gerah karena hampir 1 jam anak itu membuntutinya dengan berbagai cara jualan.

Kalau sebagai sales saya akui ini anak tough deal. Tapi sebagai korbannya, teman saya merasa seperti di bully.

Puncaknya dia berkata, “sorry kid, not interest”.

“But sir, this good souvenir for you family and friends”, katanya beralasan.

Dalam hati teman saya, waduh, magnet tempelan kulkas sudah banyak cuy!

Dia pun berkata lagi, dengan muka jutek. “Listen kid, 200 rupee its good price but i don’t need that souvenir”. Catatan 1 dollar amerika sama dengan 65 rupee, atau harga tersebut sekitar 40 ribu rupiah lah kira-kira.

Kemudian teman saya mengeluarkan uang 50 rupee dengan niatan supaya dia stop draging ngekorin kemana-mana. “There you go..” teman saya menyodorkan 50 rupee tadi ke tangannya, sekitar 10.000 rupiah.

“What is this sir?” Di bertanya dengan muka mengkerut.

“Take it, its your!” jawab teman saya.

“Do you think i m beggar ?” katanya nyolot, “i am a sounevir sales sir, take back your money. Just buy my souvenir , we all done”.

Teman saya tersentak kaget dengan jawabannya, not beggar! Kata teman saya dalam hati, “gue kagum dengan attitude nya. saya bukan pengemis, saya penjual souvenir!”

Mengapa teman saya tersentak dengan jawaban itu?

Kemarinnya, teman saya ber 10 mengadakan tour visit ke sebuah tempat wisata 1 jam dari jaiupur, tengah jalan bus mereka ban nya kempes. Lalu mereka turun dari bus. Di luar panas sekali dan ada seorang bapak tua lewat jualan es teh, di panggul.

Mereka memesan beberapa minuman karena memang udara panas terik. Ketika bus akan jalan mereka bertanya berapa harga nya atas 12 gelas es teh tadi, dia berkata 150 rupee. Murah sekali, itu komentar mereka saat itu

Teman saya pun mengeluarkan dan memberinya 300 rupee dan berkata, “take the change”. Kata-kata : “ambil saja kembaliannya” adalah bentuk apresiasi mereka atas jasanya. Yang di jawab, “No sir, this your 150 rupee..i am not a beggar, i am a tea seller.”

Kata-kata not a beggar membekas sekali di hati teman saya, sampai saat ini.

Dan besoknya, seorang anak 12 tahun, di hadapan teman saya berkata yang sama, i am not a beggar!!! What an attitude!!!!

Ini kalau begini India bisa menjadi negara yang besar seperti jaman bharata sebelum inggris masuk mengoyak tradisi dan kebesaran bangsa bharata ini.

Modalin ngapah .. “Buktikan dulu !!”

BELAJAR MEMASAK AIR

Dalam bisnis hal yang paling penting adalah permodalan. Dan bagaimana membuat modal datang kepada bisnis kita?

Kita mengandaikan diri sekarang. Katakanlah anda seorang suami penganten baru, dimana istri anda belum bisa masak. Lalu sang istri berkata, “suamiku, bagaimana kalau dapur peralatannnya di lengkapi, juga di berikan dapur yang bagus, plus ada oven, ada kompor , ada peralatan yang lengkap untuk masak. Pasti saya akan bisa masak dalam waktu cepat dan enak”.

Sekarang menurut anda, kita pakai akal sehat saja untuk menjawab, ketika anda siapkan semua peralatan tersebut apakah sang istri bisa masak sesuai janjinya? Atau tetap tidak bisa masak dan mengandalkan pembantu atau mengandalkan jari-jarinya di depan smartphone nya yang terhubung dengan apps go-food.

Sekarang kita balik, suaminya sekarang berkata, “istriku, kamu kalau sudah bisa membuktikan pandai di dapur dan bersemangat, pasti aku akan perbagus dapur dan menyediakan seluruh peralatan dapur”.

Pertanyaan, berapa besar chance ketika benar istrinya bisa masak, sang suami benar akan menepati janjinya menyediakan peralatan dan merombak dapur agar keren dan lengkap?

Ternyata dalam statistic dari dua kasus diatas, ketika suaminya menuruti pesan istrinya dimana dapur lengkap dia akan bisa masak peluangnya sang istri bisa masak setelah dapur lengkap hanya 20% alias dari 5 istri yang di perlakukan seperti ini, hanya 1 yang bisa masak.

Namun disisi wanita membuktikan kemampuannya, dari 5 suami, 3 orang atau 60% memenuhi janjinya, memperindah dan memperlengkap dapur.

Mengapa demikian?

Secara psikologi pasti sudah bisa di tebak. Kita bahas khusus psikologi ini di tempat lain ya, agak panjang masalah ini di jelaskan karena harus mengunakan kisah pembuktian ekperimental .

Adapun tujuan tulisan kali ini adalah tentang mendapatkan modal bisnis.

Dalam proyek yang masih green field. Belum jalan, masih konsep, masih ide, belum komersial, atau kalaupun sudah jalan masih “skala lab”.

Maka modal akan sulit datang. Karena pemodal atau founder kalau tidak melihat asset kita, mereka melihat revenue atau turn over atau penjualan.

Jadi cara termudah mendapatkan modal sekali lagi, lakukan seperti sang istri yang dapur jelek, seadanya tetap berusaha masak. Karena semakin sering kita masak, maka hukum ala “bisa karena biasa” tercipta.

Sementara green field company yang belum jalan sulit mendapatkan modal karena seperti kenyataan dapur yang lengkap, tetap saja tidak bisa masak. Bisnis yang serba lengkap, belum tentu jalan. Lebih baik, seadanya jalan, walau terseok, walau masak air gosong, tetap lebih baik.

Ayam Kumpul sama Ayam “Winner Winner Chicken Dinner ..”

Sebuah pertanyaan saya ajukan, “Apa langkah pertama bagi anda para milyuner diawalnya dahulu ketika anda memulainya?”

Kemudian ada yang bertanya dalam hati membaca tulisan awal ini, “Khan sekarang saya belum milyuner. Kenapa saya mesti jawab? Atau ini pasti bukan pertanyaan buat saya?,”

Benar, saya bertanya ini bukan hanya kepada mereka sekarang yang sudah makmur. Tetapi juga kepada anda “calon milyuner”.

Dalam sejarah dunia, ada 2 orang yang ceritanya menarik untuk di bahas. Setidaknya yang menjadi motivasi saya. Yang pertama adalah sahabat Nabi Muhammad, yang bernama Abdurrahman bin Auf.

Dalam periode fathul madinah, dimana kaum muslimin di tahun ke 11 hijriah berangkat berpindah pusat nya ke madinah karena tekanan politik di Mekkah, maka para sahabat berangkat tanpa membawa apa-apa kecuali dirinya.

Abdurrahman bin Auf termasuk salah satunya. Waktu itu, beliau merupakan salah satu orang terkaya di Mekkah. Dia pernah menyumbang lebih dari 2000 unta dan kuda untuk perjuangan awal nabi Muhammad. Dan ketika hijrah ke Madinah tidak membawa apa-apa, hanya benda yang menempel di badan.

Ketika tiba di Madinah, sambutan hangat para kaum anshor tersebut membuatnya menjadi orang yang paling banyak di sapa. Ketika dia di tanya “Apa yang bisa di bantu?”

Abdurrahman bin Auf hanya bertanya satu hal, “Dimana pasar?”

Sejarah mencatat dalam waktu kurang dari 5 tahun Abdurrahman bin Auf sudah menjadi orang paling kaya di Madinah.

Yang kedua adalah seorang milyuner yang bernama Aristotle Onasis. Pengusaha perkapalan ini di tahun 90an memiliki 70% armada kapal dagang dan penumpang di seluruh dunia. Benar, di dunia. Bukan hanya di yunani, atau di eropa, tetapi di dunia.

Ketika seorang wartawan suatu hari bertanya di depan public dengan pertanyaan seperti ini, “Pak Onasis, jika anda terbangun dari tidur anda. Lalu anda dapati diri anda miskin. Tidak memiliki apa-apa lagi. Dan anda bangun di suatu tempat yang anda tidak tahu atau baru sama sekali. Bisakah anda menjadi milyuner seperti sekarang ini?,”

Onasis menjawab, “Bisa! Saya minta dua hal di penuhi. Satu, berikan baju terbaik buat saya. Dan dua, beri tahu saya di mana orang KAYA berkumpul!”

Dari situ, saya mulai menerapkan satu prinsip yang saya yakini. Yaitu karena saya ini bodo dan sontoloyo, maka saya harus berkumpul sama banyak orang pinter. Saya harus berkumpul sama orang yang lebih sukses dari saya. Saya berkumpul hanya dengan orang yang networknya lebih luas dari saya. Saya harus ngumpul dengan orang yang memiliki “power”. Saya harus berkumpul dengan orang yang banyak duitnya.

Untuk itu, kenalan saya tidak saya batasi. Tapi, kalau teman ngumpul saya pilih.

Curang banget ya saya itu. Kalau istilah Cinta-Dian Sastro, apa yang saya lakukan itu JAHAT.

Abis gimana dong. Orang saya ini bodoh kok. Nggak pinter. Masih harus banyak belajar. Saya jadi ngumpul sama orang-orang yang “lebih segalanya” dari saya jadinya.

# peace