Konglomerat Muda

Banyak pengusaha muda yang mengatakan sebuah kalimat untuk menyemangati perjuangan ekonominya, yaitu “abis ini kita akan IPO”.

IPO atau intial public offering adalah penawaran perdana atas saham publik yang mereka bagikan kepada investor. Lalu setelah “sold out IPO nya” nilai saham mereka akan melantai di bursa saham atau stock exchange. Lalu kemudian trend harga saham mereka naik dan nilai asset mereka naik, lalu mereka jadi SANGAT KAYA.

Wah seru ya. Ngomong-ngomong apa sesederhana itukah cara IPO dan jadi kaya?

Apakah setiap perusahaan yang IPO pasti laku? Sahamnya harga pasti naik? Saham nya di buru? Jawabnya tidak mudah dan tidak segampang menjulurkan lidah.

Untuk saham laku, untuk saham naik, untuk saham di buru banyak orang ada “strategi”nya. Siapa “pemain yang meng-endore anda” adalah salah satu kunci suksesnya. Juga ada lagi cara yang harus di punya setiap pengusaha, STORY TELLING.

Tulisan kali ini tentang kekuatan story telling dan cara menyusun cerita agar bisnis bisa terbang.

Saya ingat akhir tahun 2018 lalu, sahabat saya yang berkantor di bilangan SCBD menelfon saya dan berkata, boorrr punya aset property aktif ? Nilai premium boleh.

Sahabat saya ini memiliki beberapa perusahaan yang listing di bursa efek jakarta. Juga ada di bursa singapura dan hongkong.

Kalau lihat gaya bicara via telfon barusan sudah hafal saya, dia mau “window dressing”. Mau listing baru bidang property perlu banyak “etalase” jualan.

Begitu dia telpon begini biasanya langsung saya sambar karena hal ini adalah peluang buat cari duit cepat. Tetapi kali ini saya katakan, ngak dulu chief, saya malah mau window dressing.

Window dressing itu ibarat etalase jualan. Etalase bagus membuat orang yang lewat di depan toko kita jadi masuk kedalam dan belanja membeli. Divisi khusus dandan-dandan lemari kaca tersebut kalau di retail shop namanya VM, visual merchandiser. Ini ada ilmunya ada strateginya ada sekolahnya.

Produk creme de la creme seperti louise vuitton, hermes, prada, ferrogamo, versace, dior, gucci, rolex mengerti sekali arti window dressing ini.

Dunia saham, bursa IPO atau urun dana publik juga harus menggunakan jurus ini kalau mau sukses.

Jadi misalnya tadi sahabat saya yang mau beli 60% saham property. Walau di harga normal misalnya 100 milyar lalu harga premium 150 milyar dia mau ambil 60% itu ngak pernah di tawar. Semakin bagus “etalasenya” bukan di tawar turun tetapi berapa mau “dilepas”. Malahan naik!

Lalu kalau setuju premium 150 milyar nggak langsung di bayar. Kita tanda tangan CSPA, Condition Sales Purchase Agreement namanya.

Mana ada beli premium di bayar tunai. Gak akan ada. Jadi angka 60%, 90 Milyarnya hanya di kertas. Dimana kalau “conditionnya” terpenuhi baru di bayar.

Lalu apa yang mereka lakukan setelah CSPA di tanda tangani, mereka cerita lah akan rencana bisnis mereka dari membeli 60% tersebut kemudian di tambah peluang mengembangkan usaha lainnya.

Apa yang terjadi ketika mereka jumpa pers menceritakan STORY TELLING mereka ke publik?

Publik menjadi semangat dan saham mereka naik. Naik 5% hari itu (misalnya) membuat angka profit 90 milyar dalam sehari (floating profit) , dengan keuntungan naiknya nilai saham itulah mereka bayar kita punya property. Ya pakai duit orang juga bayarnya ke kitanya.

Jadi USE OTHER PEOPLE MONEY juga, pakai urun dana uang orang lain juga. Begitu masuk membeli yang 60% tadi maka secara pembukuan aset 150 milyar masuk di pembukuan mereka membuat aset mereka naik juga.

Jadi pertumbuhan mereka selalu “unorganic”. Tumbuh karena “financial engineering “ begini.

BENER DEH, kalau mau bisnis jangan hanya beli 10 jual 13, untung 3, masih potong sana sini. Bayangkan, lama kayanya. Window dressing ngak pakai uang sendiri, pakai urun dana uang orang. Pakai usaha orang yang dibeli premium. Coba, siapa yang rugi? Ngak ada. Semua untung.

Itu permainan IPO kelas 100 milyar ke atas. Terus UKM bagaimana?

#bersambung

HAL YANG TIDAK DI AJARKAN DI SEKOLAH BISNIS

BISNIS DAN RESIKO (HAL YANG TIDAK DI AJARKAN DI SEKOLAH BISNIS)

Membandingkan Indonesia yang populasinya 260 juta an ada baiknya sesekali kita berani membandingkan dengan negara Amerika yang penduduknya 330 juta atau dengan Eropa Barat yang kalau di total jumlah populasinya adalah 370 jutaan.

Dari sisi GDP (Gross Domestic Bruto) Amerika 19,3 triliun dolar, Eropa Barat 16,7 triliun dollar, Indonesia 1 triliun dolar.

Sengaja saya tidak membandingkan dengan China yang 1,38 milyar populasi dan India yang 1,2 milyar populasi. Juga tidak membandingkan dengan GDP China yang 13,2 triliun dolar juga dengan GDP India 2,7 Triliun dolar.

Apa yang mau kita bandingkan?

Ada 600 an perusahaan besar di Indonesia yang asset nya lebih dari 1,4 triliun ( 100 juta dolar), di Eropa ada 27.000 perusahaan yang asetnya di atas 100 juta dollar dan di Amerika ada 39.000 an perusahaan yang assetnya di atas 100 juta dolar

Perusahaan di dunia yang memiliki penjualan tahunan di atas 1 bilion dolar mencapai 3.500 perusahaan dan 60% nya di Amerika. Di Amerika sendiri sekitar 2.300 perusahaan nilainya diatas 1 bilion. Dan ada 3 yang tembus atau sekitar 1000 bilion diantaranya apple, amazon dan google.

Kita bicarakan Indonesia sekarang, kalau membagi jenis usaha ada 2, perusahaan besar dan UMKM. Saya tidak tahu pasti kategori besar kecil usaha di Indonesia tetapi bagaimana kalau kita sederhanakan ?

Yang dikatakan besar adalah yang punya aset atau penjualan tahunan di atas 1 triliun. Bagaimana? Jadi ada 600 an perusahaan masuk ketegori besar di Indonesia.

Atau kegedean ya nilainya, kita kecilkan? bagaimana kalau perusahaan assetnya 100 milyar atau penjualan tahunan 100 milyar di katakan “perusahaan besar”? Kalau kategori besar versi 100 milyar atau sekitar 7,2 juta dolar.

Hhhmmm saya kok nggak nyaman ya angka 7,2 juta dolar di bilang besar.

Ya sudah lah kita buat kesepakatan, kategori perusahaan 100 milyaran di indonesia ada 6.500 an datanya. Itu saja masuk perusahan besar bagaimana?

Lalu yang UMKM, usaha mikro, kecil, menengah kita masukan dari 0-100 milyar begitu ya?

Bagaimana kalau anual penjualan antara 1 milyar – 100 milyar masuk kelas menengah? Kecil adalah 100 juta- 1 milyar, lalu di bawah 100 juta pertahun adalah kelas mikro?

Setuju ya, versi kita biar enak kita membaginya. Ngak usah pakai aturan indonesia apa lagi dunia, kita jadi keciiiiiil banget. Ngak ada perusahaan besarnya kalau pakai standar dunia.

Pertanyaan sekarang, ada berapa perusahaan kelas menengah di indonesia? Kelas yang 1-100 milyar aset atau penjualannya?

Ini saya kurang tahu, di katakan bisnis UMKM itu katanya 50 juta. Tetapi aslinya berapa usaha yang kecil, berapa yang mikro, berapa yang menengah saya tidak tahu.

Mengapa tulisan ini di awal minggu kita bahas tulisan bisnis?

Karena kita NKRI kalau mau maju maka fokus kita adalah dimana? Membawa yang 600 perusahaan tadi menjadi bilion dolar penjualan/asetnya?

Atau membawa yang 6.500 an perusahaan 100 milyaran menjadi naik ke 1 triliunan? Atau membawa kelas menengah menjadi kelas besar? Mana PLATFORM untuk rencana besar ini?

Jadi kalau di simpulkan, piramida bisnis di Eropa dan Amerika tidak tajam dan rendah antara perusahan besar dan UMKM.

Apa itu tajam dan rendah?

Di Indonesia, yang besar hanya 0.003% yang menengah sekitar 3-5%, yang kecil 20%, sisanya mikro. Tajam karena bentuknya runcing tapi rendah karena 0.003% tadi hanya separo tinggi bisnis di eropa dan amerika.

Di amerika dan eropa, kelas menengahnya besar. Secara data 2018 secara rata-rata kelas besarnya 2%, kelas menengahnya 35%, kecil 35% dan mikro sisanya. Hampir seperti pencil bentuk piramidanya.

Mereka punya kelas super besar yang asset dan penjualannya pertahun 100 bilion, 1000 bilion bahkan.

Kalau di bandingkan APBN Indonesia sekitar 2000 triliun atau sekitar 150 bilion dolar di eropa ada 100 an perusahan bernilai tersebut, sedangkan di Amerika ada lebih 500 an yang nilainya di atas APBN Indonesia. Misalnya google itu market capnya 8 kali APBN Indonesia. Di pimpin CEO doang, ngak harus pakai jurus blusukan dalam got segala buat jadi CEO nya. Ngak harus rebutan masjid dan kampus buat jadi CEO amazon.

Kesimpulan, untuk mencapai usaha di Indonesia menjadi beberapa kali lipat dari APBN maka negara harus hadir. Jangan sampai seperti dikatakan ekonom nobel laurette yang mengatakan bisnis itu ada banyak risk.

Ada marketing risk, ada construction risk, ada finance risk, ada Human resource risk, ada country risk dan ada seperti di indonesia, resiko terbesar datang dari pemerintahnya, dari regulatornya alias GOVERMENT RISK. Lah yang dipikiri 80% adalah politik. #ngopipagi 

BAGAIMANA BISA MENEGAKKAN BENANG YANG TERLANJUR BASAH

BAGAIMANA BISA MENEGAKKAN BENANG YANG TERLANJUR BASAH

Bocornya email madam secretary hillary tepat 1 malam sebelum pilpress raya membuat hancur reputasi hillary dalam semalam dan Trump menang. Siapa yang tidak ingin hilarry berkuasa itulah pemainnya? Yaitulah bagian dari Sharapova 4.0

Serangan dukungan brexit, keluarnya inggris dari uni eropa tepat 2 hari sebelum referendum membuat suara mayoritas inggris setuju inggris keluar uni eropa mengagetkan banyak pengamat kebijakan luar negeri termasuk penjabat negara inggris kala itu. Pengaruhnya brexit adalah uni eropa jadi lemah.

Siapa yang ingin eropa lemah? Itu yang bermain di brexit.

Lalu kencangnya pendukung catalan yang ingin merdeka yang bisa membuat liga classico pertandingan klasik el real dan barca tinggal sejarah kalau basque pisah dari spanyol. Goncangan referendum tersebut ada yang mainkan dengan cantik via sosmed dan media digital. membuat spanyol goyang, membuat eropa lemah.

Ini siapa si belakang catalan?

Lalu lain lagi dengan Arab spring di mesir di awali dengan kelangkaan gandum rusia yang gagal panen karena panas berkepanjangan di rusia dan serangan via media sosial membuat revolusi mesir yang menumbangkan islam versi ikhwanul muslimin adalah contoh serangkaian geopolitik dunia yang dimainkan 3 negara besar. Ujungnya adalah ingin benefit dari sebuah wilayah.

Terlalu naif bahwa suatu negara konstalasi politik terjadi “tanpa” campur tangan negara lain yang sedang cari “untung” di negara tersebut.

Di INDONESIA bagaimana?

Negara yang di untungkan ketika seseorang menjabat nantinya pasti akan memberikan dukungan mati-matian demi kelancaran masa depan mereka di sebuah negara. Itulah pendukung sang calon.

Saat ini kita sudah tahu negara seberang mana yang “di untungkan” selama incumben menjabat, bener kan begitu? Kita sudah tahu negara yang di untungkan dalam beberapa tahun ini.

Pastinya dia (negara tersebut) ingin lebih lagi di untungkan, lewat mana? Mereka pragmatis pastinya. Tetapi jalan lama pasti di pakainya lebih mudah.

Kalau sisi lawannya siapa? Gampang bacanya. Siapa negara yang di rugikan selama ini? pastinya mereka yang kurang di untungkan akan lari mendukung ke seberangnya. Dan kali ini pun kita sudah bisa memastikan negara mana yang “sial” dengan incumben. Pastinya kalau mau untung di masa depan di indonesia dukung seberangnya atau setidaknya main dua kaki.

Jadi itulah kenapa pilihan politik saya yang anti asing ini nggak nyaman dengan strategi keduanya. Saya kalau boleh dukung ya dukun paslon no 10, dukungan saya ke si tronjal tronjol itu. Ngak ada oligarki di sekelilignya, tidak ada plutokrasi di sekelingnya dan tidak ada geopolitik di seberangnya.

Sayang ya kalau seorang dan kelompoknya demi berkuasa meski “nyender” ke asing. Atau tersandera oleh asing. Kapan punya negara yang bersandar ke anak bangsanya sendiri, kekuatan alamnya sendiri, ke potensinya sendiri dan mempengaruhi negara lain. #peace

POLA DALAM DIRI

Kita bicara pola dalam diri. Kita perhatikan diri sendiri atau orang sekitaran. Mengenal pola itu penting, karena pola itu sesuatu kejadian yang berulang-ulang. Sama!!

Misalnya pembantu di rumah setiap pulang lebaran tidak balik lagi ke rumah kita. Atau kalau punya pegawai yang pinter pasti di ambil orang di tahun kedua. Atau ada banyak berbagai pola itu terjadi misalnya pola musibah, pola kantong kosong, pola hidup berantakan.

Dan dalam kemakmuran, anda juga punya pola.

Kenalkah anda akan pola uang “datang” ke anda? Kenalkah anda akan pola uang “keluar” dari anda?

Sebelum kita lanjutkan tentang kemakmuran, kita rincikan sedikit tentang pola dalam kehidupan.

Apakah Anda kenal seseorang yang mempunyai kebiasan terlambat? Saya pernah joging dengan seorang teman yang selalu datang terlambat. Kami biasanya jogging di senayan hari jumat malam setelah pulang kerja. Biasanya saya mengingatkan, cuy, besok kita jogging bada magrib biasa ya ..

yang selalu di tanggapi, siyaaap, saya akan datang pas, magriban dan langsung cuuus

saya pastikan lagi, ok, confirm ya, Jam 6.30. dia jawab, Saya pasti datang!

Keesokan harinya, ternyata baru jam 6.45, dia datang. Pastinya telah siap dengan berbagai alasan : Anakku mainin baju joging dan menaruhnya di bawah tempat tidurnya, jadi aja cari-cari dulu, telat deh.

Minggu berikutnya, hal yang sama terjadi. Jam 6.50, Dia baru datang. Alasannya: Sepatu tenisku yang sebelah tidak ketemu!

Minggu berikutnya lagi, ia datang tepat jam 7. Ikan masku sakit sehingga anakku menangis terus- terusan! Begitu seterusnya, mulai dari alasan aki mobil mati, mobil tidak bisa distarter, kunci mobil hilang, sampai celana dalam yang masih terendam dalam mesin cuci.

Akhirnya, saya berkata, brur, ayo kita buat perjanjian. Mulai sekarang, untuk setiap satu menit keterlambatanmu, kau harus membayar 20.000 perak ke kotak amal masjid al bana. Minggu berikutnya, ia beralasan pundaknya sakit dan sejak itu kami tidak pernah jogging bersama lagi!

Apa yang terjadi? dia mengira dunia di luar dirinyalah yang membuatnya demikian! la tidak dengan sadar mencoba datang terlambat, tetapi dalam bawah sadarnya ia menyimpan program yang mengatakan “kau selalu terlambat” dan program itulah yang mengatur hidupnya.

Bahkan jika dia secara kebetulan berangkat lebih awal dan ingat bahwa ia mempunyai target untuk datang tepat waktu,…

Ternyata program bawah sadarnya akan membantunya mencari pohon yang bisa ditabrak, atau jalan tak dikenal yang bisa menyesatkannya. Setelah itu ia akan menarik napas dalam- dalam dan berkata : Beginilah adanya-aku selalu terlambat!

Ok, baik lah, mulai faham dengan pola-pola yang ada dalam diri seseorang, atau bahkan kenal dengan pola diri kita sendiri. Semua itu “kita yang menciptakan”.
#peace

MENEGAKKAN EKONOMI SYARI’AH

Ada yang bertanya, Mengapa memilih netral dalam pilpress kali ini alias tidak mendukung salah satu calon. Saya jawab bahwa saya netral tidak mendukung tetapi saya tetap memilih. Pilihan saya hak pribadi saya di dalam bilik suara nanti. Saya pasti memilih.

Memilih itu wajib tapi posisi netral tidak mendukung adalah sikap saya di publik, mengapa?

Saya mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan platform ekonomi Indonesia saat ini yang menggunakan “state driven economy” alias ekonomi pendorong utamanya adalah BUMN.

Ketika mengetahui di sisi lawannya incumbent ternyata tetap bergaya sama yaitu menggunakan BUMN walau porsinya mungkin berbeda namun itu tidak cukup bagi saya untuk mendukung.

Saya ini “Local market driven economy”. Orientasi saya adalah bisnis berbasis pasar dan di utamakan adalah pasar local. Saya ini anti PEMERINTAH REGULATOR menjadi OPERATOR. Conflict interest. Sudah 7 presiden hal itu di lakukan dan pertanyaan sederhana , apakah kemiskinan hilang dari muka bumi Indonesia?

Apakah jarak kaya miskin mengecil dalam 7 presiden? Jawabnya tidak. Ekonomi benefitnya tidak merata. Bagi saya solusinya adalah dengan mengubah “state driven economy” ke “market driven economy”.

Boleh saja ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, karena mungkin kuat mendukung para calon presidennya masing masing tetapi saya tidak melihat perbedaan dalam membangun ekonomi di kedua paslon ini. jadi siapapun yang jadi, ekonominya akan sama “cara menjalankannya”.

Secara pribadi saya ingin segera mererapkannya karena kalau di terapkan di tahun 2024 telat. Harus secepatnya kalau bisa sekarang.

Apa saja yang akan di terapkan ?

Pertama banking system. BI berada dibawah Presiden langsung bukan merupakan lembaga independen lagi. Sehingga bunga bank dapat dihapuskan menjadi 0%. Bank dapat mendanai masyarakat dengan jaminan PROJECT,, bukan lagi jaminan ASET .. Sehingga Lapangan Kerja terbuka dan Perekonomian berjalan.

Kedua, Telco atau perusahaan telekomunikasi akan merger dengan bank.

Telkom, TVRI, dan 4 bank utama BUMN, Mandiri, BNI, BRI, BTN semua gabung di bawah PT Telkom. Sahabat pasti akan shock dengan landasan ekonomi seperti ini.

Setelah di gabungkan maka PT Telkom akan melepas hingga total 51% kepemilikan saham ke publik di bursa. Market kapitalisasinya nilainya bisa mencapai 7.000 triliun rupiah.

Saya tidak uraikan dulu bisnis modelnya karena itu kunci utama bisnis ini berjalan. Kita bicara di “market cap” nya terlebih dahulu setelah “mega-merger” ini dan beri waktu 1 tahun setelah merger mega company ini baru “listing” melepas hingga 51% saham tadi.

Ketika melepas hingga 51% Indonesia akan mendapat 4000 triliun “free cash flow” dan ini untuk bisa untuk membayar hutang luar negeri Indonesia. Juga melepas “sovereign guarantee”.

Apa itu sovereign guarantee, jaminan Negara pada korporasi ini? Mengapa saya gelisah sekali dengan cara berhutang oleh ibu BUMN yang menggunakan sovereign guarantee ini?

Aaagghh saya mau melanjutkan tetapi pasti banyak yang menghujat saya karena di anggap hoax. Kira2 para Capres ngarti kagak ya beginian? Sepertinya yg satu sibuk blusukan, satunya lagi suka gebrak meja. Parahnya lagi para pendukungnya lebih suka saling menghujat.

Apakah strateginya hanya menghujat??

#peace