Pemuda Buntut Kucing

Kondisi kehidupan kita sebagai Bangsa Indonesia dan sebagai Umat Islam disadari atau tidak bahwa kita sedang mengulang kembali sunah Nabi Ibrahim dan Sunah Nabi Musa As. Fakta tsb dapat kita lihat berdasarkan bilangan Tahun baik itu tahun Masehi atau tahun Hijriyah yang sedang kita jalani saat ini.

Tahun 1439 H yang tidak lama lagi akan bertambah menjadi Tahun 1440 H adalah perulangan kembali Sunah Nabi Ibrahim As. Tahun 1439 artinya bahwa kita Umat Islam di NKRI sedang menjalani Surat ke 14 yaitu Surat Ibrahim ayat 39 dan 40. Nabi Ibrahim As adalah figur seorang Tokoh Konsepsional yang punya visi membangun negeri yang aman dan damai. Untuk mencapai tujuan tsb Nabi Ibrahim As melakukan pembinaan yaitu dengan upaya kederisasi generasi muda dan figur nya adalah “Ismail”. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim dalam mengkader generasi muda yaitu Ismail ? Yaitu memberi konsumsi Wahyu yaitu “Shuhuf”. Ada dua hal yang perlu kita contoh dari sikap Nabi Ibrahim sebagai figur Tokoh yaitu :
1- Ibrahim pada saat menghancurkan berhala tidak melibatkan umat dan tidak melibatkan generasi muda, dia lakukan sendiri.
2- Ibrahim tidak mau mengorbankan generasi muda untuk menjadi pendukung kemauannya. Dia biarkan generasi muda aktif melakukan pembinaan, agar menjadi generasi yang cerdas dan faham dan tidak menjadi generasi “Buntut Kucing”. Dan berbeda dengan Ismail yang aktif Membina diri dia fahami wahyu Allah dia fahami kitab Shuhuf, dan tiba saat nya, Nabi Ibrahim mengajukan visi wahyu kepada Ismail. Yaitu :
يا بني اني ارى في المنام اني اذبحك فانظر ماذا تري
Wahai Generasi ku. Aku punya pandangan pada saat Islam masih tidur, untuk meraih kemenangan aku harus mengorbankan engkau. Maka bagaimana Pandangan mu tentang pandanganku.
قال يا ابت افعل ما تومر ستجدني أن شاء الله من الصبرين
Ismail menjawab, wahai bapak lakukan sesuai perintah insya Allah engkau lihat kami sebagai generasi yang tabah dan taat perintah.

Begitu pula dengan Nabi Ibrahim yang harus menerima resiko da’wah dia di eksekusi oleh “Namrud” dia tidak lari dia hadapi sendiri karena dia yakin dengan “حسبنا الله ونعم الوكيل” Yang sudah dijadikan sikap hidupnya, dia yakin akan dijaga, dipelihara san selamatkan Allah Swt.

Tahun 1439 berkaitan dengan datangnya para Mubalig yang terkenal dengan sebutan “Dewan Wali Songo” yang datang ke Nusantara yaitu Tahun 1404 yaitu dalam rangka melaksanakan misi dakwah sesuai dengan Surat 14 ayat 4 yaitu :
وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم فيضل الله من يشاء ويهدي من يشاء وهو العزيز الحكيم

Ayat tsb adalah salah satu ayat yang dijadikan landasan oleh para “Wali” bahwa dalam menyampaikan “Risalah” sesuai dengan bahasa kaum nya yaitu kaum yang dijadikan sebagai obyek dakwah. Para Wali menyampaikan Risalah pada saat itu harus berhadapan dengan masyarakat yang berbeda beda, beda adat, suku, budaya dan agama juga harus berhadapan dengan kekuatan “Maja Pahit” dan “Pajajaran”. Dan mereka sukses. Pengaruh dakwah mereka yang lebih mendahulukan dan mengutamakan Persatuan bangsa telah ikut mewarnai dan membentuk sikap dan pemikiran para pemuda Nusantara yang terdiri dari berbagai suku dan agama untuk bersatu, karena pada saat itu tidak ada media yang bisa menjadi “Alat Pemersatu” Bangsa. Maka lahirlah “Sumpah Pemuda” yang tidak menyebutkan nama Agama apapun. Sumpah pemuda hanya menyebut kan tiga poin yaitu :
1- Tanah Air. Indonesia
2- Bangsa. Indonesia.
3- Bahasa. Indonesia.
Tiga isi sumpah pemuda mengandung makna yaitu :
“Tanah Air” adalah tempat melaksanakan aturan.
“Bangsa” adalah yang melaksanakan aturan.
“Bahasa” adalah aturan atau hukum yang berlaku di Tanah Air.

Tiga isi sumpah pemuda terinspirasi oleh “Dinul Islam” yang membicarakan tiga kerangka atau Rukun yaitu :

“Iman”, “Islam” dan “Ihsan”. Fakta ini adalah karena Dakwah para Wali.

Bersambung

ربنا عليك توكلنا واليك انبنا واليك المصير

Keutaman Bulan Rajab

Puasa di bulan rajab
Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda yang artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang Allah muliakan, maka barangsiapa yang berpuasa satu hari di bulan itu karena beriman dan mencari pahala, maka pasti mendapatkan keridhaan yang besar dari Allah SWT. Barangsiapa yang berpuasa dua hari di bulan itu, maka dia mendapatkan kemuliaan di sisi Allah yang tidak dapat dilukiskan oleh siapapun, baik manusia maupun penghuni langit. Barangsiapa yang berpuasa tiga hari maka dia diselamatkan dari bala dunia dan siksa akhirat, dari sakit gila, lepra, belang dan dari fitnah Dajjal. Barangsiapa berpuasa tujuh hari, maka pintu- pintu neraka tertutup baginya. Barangsiapa yang berpuasa delapan hari, maka delapan buah pintu surga dibuka untuknya. Barangsiapa berpuasa sepuluh hari, maka semua permintaannya kepada Allah akan dikabulkan. Barangsiapa yang berpuasa lima belas hari, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan mengganti kebaikan dengan kejahatannya. Dan barangsiapa yang berpuasa lebih dari lima belas hari, maka Allah akan menambah pahalanya”. (zubdatul waizin)

Dari Nabi Muhammad Saw sesungguhnya beliau bersabda yang artinya:

“Pada malam Mi’raj aku telah melihat sungai yang airnya lebih manis daripada madu, lebih dingin daripada es, dan lebih harum daripada misik. Aku bertanya kepada Jibril: “untuk siapakah sungai ini?’ Dia menjawab: “untuk orang yang membaca shalawat kepadamu pada bulan Rajab.”

Al-Muqatil berkata: “Di belakang gunung Qaaf terdapat tanah lapang berwarna putih, debunya seperti perak, luasnya tujuh kali dunia ini dan penuh dengan malaikat, yang seandainya sebuah jarum jatuh, pasti mengenai mereka. Masing-masing malaikat memegang bendera yang bertuliskan ‘Laa ilaahaa illallaahu Muhammadur Rasuulullaah Mereka berkumpul pada tiap-tiap malam Jum’at di bulan Rajab di sekeliling Gunung qaaf, berdoa untuk keselamatan umat Muhammad Saw.

“Ya Tuhan kami, kasihanilah umat Muhammad dan jangan Engkau menyiksa mereka.”

Mereka memohonkan ampun dan berdoa sampai subuh tiba. Allah swt. berfirman:

“Hai malaikat-Ku, demi keagungan dan kemegahan-Ku, Aku benar- benar telah mengampuni mereka.

Tingkatan Shalat

 

Menurut Imam Ghozali, Shalat terdapat 4 tingkatan, antara lain :

1. Ghofilin
2. Mubtabi’in
3. Abidin
4. Arifin

Shalat Tingkatan Ghofilin, adalah orang yang membawa pikiran duniawi ke dalam shalatnya. Lisan, Hati, dan Gerakan tidak sesuai dan tidak menyadari bahwa dia sedang shalat menghadap ke Allah SWT. Shalat pada kategori ini segala do’a tidak terijabah dan tidak terhindar dari segala bala.

Shalat Tingkatan Mubtabi’in, adalah orang yang setengah khusyu’. Artinya dia menyadari sedang shalat dan menghadap Allah SWT, tetapi pikiran duniawi masih terbawa kedalam shalat. Shalat kategori ini do’a tidak terijabah karena hanya menjalankan syari’at tanpa kepasrahan kepada Allah SWT.

Shalat Tingkatan Abidin, adalah orang yang shalatnya khusyu’. Artinya antara Lisan, Hati, dan Perbuatan hanya tertuju kepada Allah SWT. Tidak membawa pikiran duniawi kedalam shalat. Shalat seperti ini terkategorikan shalat yang terijabah segala do’anya dan terhindar dari segala bala. Salah satu cara untuk mencapai kategori ini yaitu dengan istirahat sebelum shalat agar tidak membawa segala pikiran duniawi kedalam shalat, kemudian memperhatikan penampilan ketika shalat karena sedang menghadap Allah SWT.

Shalat Tingkatan Arifin, adalah orang yang mempasrahkan diri kepada Allah SWT sehingga yang dirasakan olehnya adalah seluruh gerakan dalam shalat digerakan oleh Allah SWT. Shalat kategori ini adalah tingkatan Nabi, Auliya, dan Wali Allah ..

Tasikmalaya, 24 Februari 2018

DINUL ISLAM

ALLAH Berbicara tentang Fakta, lalu keterangan. Keterangan ini bersifat menerangkan Fakta yang telah terjadi.

Fakta negara Arab yang terpuruk yang ingin dirubah Allah melalui Rasulullah SAW. Akibat fakta keterpurukan ini, Allah mengharuskan kepada Rasulullah SAW untuk membaca (iqro).

Keterpurukan ini berkaitan dengan aturan = isme. Isme yang dianut adalah isme nenek moyang yaitu berhala.

Maka nabi diharuskan untuk memahami dan manggantinya dengan isme – robb.

Setelah nabi memahami Al-Alaq, maka dibuka oleh Allah aturan (isme) robb secara utuh.

Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa (kaum) kecuali bangsa itu sendiri yang mau untuk berubah.

Dengan apa merubahnya? Perubahan itu terjadi dengan adanya Revolusi Ilmu ..

Sebagai pembuka ilmu maka Allah menurunkan surat Al-Fatihah. Di dalam surat inin dibahas mengenai 3 golongan ;

  1. An’amta (Mukmin)
  2. Dholin (Kafir)
  3. Magdub (Munafiq)

Keterkaitan 3 aturan ;

  1. Robilalamin – robinnas (toriq)
  2. Malikiyahumidin – malikinas (sabil)
  3. Abid – ilahinas (jihad)

Toriq adalah jalan menuju aturan Allah (Rububiyah)

Sabil adalah jalan menuju negara (Mulukiyah)

Jihad adalah jalan menuju jannah (Ilahiyah)

Janji Allah kepada orang yang berjihad adalah (QS.13:11)