Ada yang bertanya, Mengapa memilih netral dalam pilpress kali ini alias tidak mendukung salah satu calon. Saya jawab bahwa saya netral tidak mendukung tetapi saya tetap memilih. Pilihan saya hak pribadi saya di dalam bilik suara nanti. Saya pasti memilih.
Memilih itu wajib tapi posisi netral tidak mendukung adalah sikap saya di publik, mengapa?
Saya mengatakan bahwa saya tidak setuju dengan platform ekonomi Indonesia saat ini yang menggunakan “state driven economy” alias ekonomi pendorong utamanya adalah BUMN.
Ketika mengetahui di sisi lawannya incumbent ternyata tetap bergaya sama yaitu menggunakan BUMN walau porsinya mungkin berbeda namun itu tidak cukup bagi saya untuk mendukung.
Saya ini “Local market driven economy”. Orientasi saya adalah bisnis berbasis pasar dan di utamakan adalah pasar local. Saya ini anti PEMERINTAH REGULATOR menjadi OPERATOR. Conflict interest. Sudah 7 presiden hal itu di lakukan dan pertanyaan sederhana , apakah kemiskinan hilang dari muka bumi Indonesia?
Apakah jarak kaya miskin mengecil dalam 7 presiden? Jawabnya tidak. Ekonomi benefitnya tidak merata. Bagi saya solusinya adalah dengan mengubah “state driven economy” ke “market driven economy”.
Boleh saja ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, karena mungkin kuat mendukung para calon presidennya masing masing tetapi saya tidak melihat perbedaan dalam membangun ekonomi di kedua paslon ini. jadi siapapun yang jadi, ekonominya akan sama “cara menjalankannya”.
Secara pribadi saya ingin segera mererapkannya karena kalau di terapkan di tahun 2024 telat. Harus secepatnya kalau bisa sekarang.
Apa saja yang akan di terapkan ?
Pertama banking system. BI berada dibawah Presiden langsung bukan merupakan lembaga independen lagi. Sehingga bunga bank dapat dihapuskan menjadi 0%. Bank dapat mendanai masyarakat dengan jaminan PROJECT,, bukan lagi jaminan ASET .. Sehingga Lapangan Kerja terbuka dan Perekonomian berjalan.
Kedua, Telco atau perusahaan telekomunikasi akan merger dengan bank.
Telkom, TVRI, dan 4 bank utama BUMN, Mandiri, BNI, BRI, BTN semua gabung di bawah PT Telkom. Sahabat pasti akan shock dengan landasan ekonomi seperti ini.
Setelah di gabungkan maka PT Telkom akan melepas hingga total 51% kepemilikan saham ke publik di bursa. Market kapitalisasinya nilainya bisa mencapai 7.000 triliun rupiah.
Saya tidak uraikan dulu bisnis modelnya karena itu kunci utama bisnis ini berjalan. Kita bicara di “market cap” nya terlebih dahulu setelah “mega-merger” ini dan beri waktu 1 tahun setelah merger mega company ini baru “listing” melepas hingga 51% saham tadi.
Ketika melepas hingga 51% Indonesia akan mendapat 4000 triliun “free cash flow” dan ini untuk bisa untuk membayar hutang luar negeri Indonesia. Juga melepas “sovereign guarantee”.
Apa itu sovereign guarantee, jaminan Negara pada korporasi ini? Mengapa saya gelisah sekali dengan cara berhutang oleh ibu BUMN yang menggunakan sovereign guarantee ini?
Aaagghh saya mau melanjutkan tetapi pasti banyak yang menghujat saya karena di anggap hoax. Kira2 para Capres ngarti kagak ya beginian? Sepertinya yg satu sibuk blusukan, satunya lagi suka gebrak meja. Parahnya lagi para pendukungnya lebih suka saling menghujat.
Apakah strateginya hanya menghujat??
#peace