Apa yang terjadi di fundamental ekonomi Indonesia saat ini dengan rupiah 15.000, minyak mentah USD 80 per barrel, Amerika terus menaikan suku bunga dollar dan terjadi perang dagang serta perang tarif di berbagai wilayah yang dilakukan oleh Amerika?
Akan kah Indonesia aman atau terjadi “tight money”? akankah perang tarif dan perang dagang malah membuat Amerika bermasalah? Atau malah membuat China negara kuat?
Dalam 2 buku geopolitik berjudul Thucidides dan War by Other Means kita akan kupas naifnya bangsa Indonesia melihat permainan tingkat tinggi beberapa negara adikuasa itu. Terlalu “casual” terlalu ngegampangin kesannya.
Dalam buku War by other mean, instrumen perang yang dipakai saat ini adalah ekonomi. Bukan lagi combatan ala perang dunia kedua atau perang inteligen jaman Cold War ala James Bond.
Kali ini instrumen perangnya adalah ekonomi. Hingga rincian terdalam perang by other mean ini terinci dalam perang dagang, perang cyber, perang legal (legal warfare). Semua disusun dan terbangun rapih semisal perang sipadan ligitan yang diambil Malaysia dengan cara legal warfare.
Timor Timur diambil dengan economic warfare. Rupiah di serang dari 3000 ke 15.000 selain Timor lepas, lalu sebuah rezim 32 tahun juga rata tanah, harga aset BUMN dan swasta bertumbangan jadi tinggal 20% nilainya di beli murah kapitalis di panen raya oleh JP Morgan, Goldman sach salah satunya tool yang mereka pakai saat ini dipakai juga di kedua posisi calon presiden 2019.
Di sisi pak Jokowi ada pak Rosan di sisi pak Prabowo ada pak sandi sebagai pemain yang menfaatkan peristiwa tahun 1998. Panen akbar mereka, harga aset tinggal 20% banyak di sapu oleh mereka. Kemudian di jual di harga normal kurang dari 5 tahun kemudian. Triliunan aset mereka bertumbuh hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun
Mereka berdua adalah sedikit dari orang yang mendapatkan manfaat dari serangan economic warfare yang dimanfaatkan sebagai peluang memperoleh kemakmuran dari sebuah kebodohan rezim.
Bisa kah ini kejadian kembali? Banyak yang merindukan peluang itu. Saat ini lain karena swasta tidak terlalu bermain. Hanya BUMN. Inilah masa harga BUMN menjadi genting. Percaya kan kalau ada tsunami kecil ketika economic hitman menyerang lagi maka hanya BUMN yang Collaps? Siapa mau ambil peluang?
Kembali ke war by other mean. Perang cyber jagonya Rusia. Rusia jago sekali perang hybrid yang menggunakan tool salah satunya cyber. Demi memecah Eropa, brexit Inggris di provokasi melalui cyber dan mempengaruhi jajak pendapat penduduk Inggris. Sehingga Inggris keluar dari Uni Eropa.
Cyber Rusia memenangkan Trump dimana Rusia anti sekali dengan Hillary Clinton yang kalau jadi presiden bisa “menyikat” Rusia, lebih baik Trump yang jadi presiden. Trump di sebut “known devil” iblis yang mereka kenal ketimbang Hillary yang dikenal dengan istilah “the unknown devil” iblis tak di kenal.
Rusia pakai data FBI di crack email Hillary di sebar hanya 12 jam sebelum pemilihan presiden.
Dalam Thucydides di jelaskan mengenai perang menggunakan foreign policy dan defence policy. Dengan kebijakan luar negeri juga kebijakan pertahanan. Ini di Indonesia nol besar memahami dan menyelesaikan masalah beginian.
Nation Interest negara besar itu tidak terbaca. Tidak memahami dalamnya setiap niat mereka. Tidak mengerti membaca langkah catur negara besar tersebut. Seperti pemerintah China yang mendukung ekonomi Indonesia namun juga tetap menyuplai narkoba di banjiri ke Indonesia dari China.
Amerika mendukung Indonesia menjadi tuan rumah IMF tetapi belum tentu memberi dana hutangan buat menutup APBN.
Kebijakan Indonesia melawan thanos namun bergantung 70% produk eksport Indonesia ke negara Thanos. Mendukung dan bermain sama negara penyedia import Indonesia.
Pengalaman pebisnis biasanya adalah “memanjakan “ divisi sales dan marketing di dalam perusahaan dan memanjakan klien atau customer yang membeli produk kita. Dan berusaha mengurangi supplier di luar (impor).
Ini terbalik, deket deket dengan supplier, main-main dengan supplier, customer malah di tekan dan tidak di perhatikan.
Pengalaman saya sih sebentar lagi perusahaan seperti begini ya “collaps”. Customer pelanggan ya pindah. Coba aja kalau ngak percaya. #ngopipagi