Kembali ke bisnis adalah “science”. Bisnis itu matematis dan harus bisa di hitung sebagai ilmu pasti. Kalau mereka berbisnis hanya berdasar, perkiraan-feeling-coba-coba, bukan salah namun “peluang” anda kecil untuk makmur cepat dan kerja anda berat.
Kita ini mau cari uang khan? Bukan kerjaan yang kita cari, setuju? Maka mencari uang dengan berbisnis harus mengerti dasar matematis perhitungannya. Kita mulai dengan pengandaian.
Kita ambil treveloka sebagai contoh pertama.
Rumus : Nominator di bagi denominator harus “plus” atau positif. Alias harus lebih besar NOMINAL atas dari pada pembagi dibawahnya.
Nominator dalam traveloka adalah jumlah hotelnya. Kalau jumlah hotelnya banyak maka “traveler” atau para denominatornya senang. Namun nominator sebelum masuk melihat dulu banyak kah denominatornya. Karena denominator itu “pasar”. Sedangkan nominator itu di sebut “kompetitor” pesaing.
Dari mana mulainya? Ambil pasar tanpa nominator, pasar hilang. Ambil nominator tanpa pasar ya rugi bandar. Mana yang harus duluan?
Sekali lagi, dalam perhitungan matematis maka “nominator harus lebih besar dan selalu positif”, Itu kunci bisnis. nominator harus di pertahankan lebih besar dari denominator.
Lalu untuk memulai bisnis itu mana yang harus di dulukan, pembaginya atau nominatornya? Bagaimana menjawab pertanyaan ini?
Disini kita harus faham melihat pasar. Kita harus paham melihat “pain point” masalah siapa yang mau di pecahkan terlebih dahulu.
Bisnis itu “besar nilainya” ketika kita menyelesaikan dua masalah “pain point” nominator dan denominator bersamaan.
Go-jek sekarang kita ambil sebagai contoh kedua.
Mana nominatornya mana denominatornya go jek? Mereka dari sejak pertama benar menarget ojeknya. Mereka tahu macet jakarta akan membuat pasar kebutuhan transport besar. Jadi gojek fokus di ojeknya.
Maka memiliki 10.000 supir ojek menjadi penting terlebih dahulu dan mereka memfokuskan membuat “happy” supir ojek. Mana yang mereka buat “happy” terlebih dahulu di jadikan denominator.
Ketika 500.000 user dengan 10.000 ojek maka supir ojek panen. Setiap bulan bisa bawa pulang 10-15 juta waktu itu. Lalu berita tersebar meluas dan gojek di serbu ojeker. Sampai 100.000 dimana usenya tetap sehingga 1 supir ojek hanya dapat 2 jutaan. Kalau mereka kecewa ojeknya maka bisnis akan merugi di gojek, maka iklan gede-gede an, ambil lagi nominator sampai 4 juta orang. Begitu bolak balik samapi ketemu “critical mess”.
Grab sekarang, karena belum ketemu critical mess, maka grab masih iklan sana sini. Mencari nominator dan denominator. Jadi pasti lebih murah naik grab sekarang. Dan grab serius garap pasar transportasi. Grab is the winner. Gojek fokus ke payment, transportasi menjadi pelengkap saja.
Kembali ke nom dan denom. Jadi kunci bisnis adalah, ‘mana yang mau di buat happy terlebih dahulu’ jadikan denominator, jadikan pembagi.
Traveloka ingin menyenangkan traveler, maka traveler menjadi denominator. Go-jek ingin menyenangkan supir ojek, maka supirojek menjadi denominator. #ngopipagi