WHAT AN ATTITUDE!


Sedikit kita menengok ke negara India, saya melihat terdapat peningkatan kegairahan baru di India. Ekonomi nya terasa meningkat di banding 5 tahun lalu.

Dua tahun berturut turut ekonomi India tumbuh di atas 7 % dan bisa di bayangkan dengan populasi 4 kali Indonesia, tumbuh 7% itu raksasa sekali pergerakannya. Dan selanjutnya mereka “mark” tandai dengan pertumbuhan di atas 8%.

Namun India tetap India, Kumuh, Lengket, Bau, terutama di city dweler atau urban problem dengan banyaknya gelandangan dan kaum slum ini.

Suatu sore saya silaturahmi berkunjung ke teman saya yang baru pulang dari India, Berharap mendapatkan oleh-oleh dari negara yang katanya akan menjadi calon raksasa ekonomi dunia. Sesampainya disana saya sudah ditunggu oleh teman saya dan dengan raut muka antusias dia berkata kepada saya, “EDAN BRO..!”

Singkat cerita dia bercerita kepada saya mengenai pengalamannya di negri para Dewa tersebut. Suatu Sore, dia keluar dari hotel hendak cuci mata di pusat keramaian setempat. Sepanjang jalan banyak anak-anak menjual souvenir. Dan sangat annoying, mengganggu sekali. Mendesak-desak terus. Terutama ada satu anak usia 12 tahunan kira-kira. Dia sampai gerah karena hampir 1 jam anak itu membuntutinya dengan berbagai cara jualan.

Kalau sebagai sales saya akui ini anak tough deal. Tapi sebagai korbannya, teman saya merasa seperti di bully.

Puncaknya dia berkata, “sorry kid, not interest”.

“But sir, this good souvenir for you family and friends”, katanya beralasan.

Dalam hati teman saya, waduh, magnet tempelan kulkas sudah banyak cuy!

Dia pun berkata lagi, dengan muka jutek. “Listen kid, 200 rupee its good price but i don’t need that souvenir”. Catatan 1 dollar amerika sama dengan 65 rupee, atau harga tersebut sekitar 40 ribu rupiah lah kira-kira.

Kemudian teman saya mengeluarkan uang 50 rupee dengan niatan supaya dia stop draging ngekorin kemana-mana. “There you go..” teman saya menyodorkan 50 rupee tadi ke tangannya, sekitar 10.000 rupiah.

“What is this sir?” Di bertanya dengan muka mengkerut.

“Take it, its your!” jawab teman saya.

“Do you think i m beggar ?” katanya nyolot, “i am a sounevir sales sir, take back your money. Just buy my souvenir , we all done”.

Teman saya tersentak kaget dengan jawabannya, not beggar! Kata teman saya dalam hati, “gue kagum dengan attitude nya. saya bukan pengemis, saya penjual souvenir!”

Mengapa teman saya tersentak dengan jawaban itu?

Kemarinnya, teman saya ber 10 mengadakan tour visit ke sebuah tempat wisata 1 jam dari jaiupur, tengah jalan bus mereka ban nya kempes. Lalu mereka turun dari bus. Di luar panas sekali dan ada seorang bapak tua lewat jualan es teh, di panggul.

Mereka memesan beberapa minuman karena memang udara panas terik. Ketika bus akan jalan mereka bertanya berapa harga nya atas 12 gelas es teh tadi, dia berkata 150 rupee. Murah sekali, itu komentar mereka saat itu

Teman saya pun mengeluarkan dan memberinya 300 rupee dan berkata, “take the change”. Kata-kata : “ambil saja kembaliannya” adalah bentuk apresiasi mereka atas jasanya. Yang di jawab, “No sir, this your 150 rupee..i am not a beggar, i am a tea seller.”

Kata-kata not a beggar membekas sekali di hati teman saya, sampai saat ini.

Dan besoknya, seorang anak 12 tahun, di hadapan teman saya berkata yang sama, i am not a beggar!!! What an attitude!!!!

Ini kalau begini India bisa menjadi negara yang besar seperti jaman bharata sebelum inggris masuk mengoyak tradisi dan kebesaran bangsa bharata ini.

Leave a comment